{"id":2137,"date":"2026-04-02T04:42:27","date_gmt":"2026-04-02T04:42:27","guid":{"rendered":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/?p=2137"},"modified":"2026-04-02T04:42:27","modified_gmt":"2026-04-02T04:42:27","slug":"infrastruktur-tanpa-utang-jadi-wacana-baru-skema-project-based-currency-dinilai-lebih-berkeadilan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/2026\/04\/02\/infrastruktur-tanpa-utang-jadi-wacana-baru-skema-project-based-currency-dinilai-lebih-berkeadilan\/","title":{"rendered":"Infrastruktur Tanpa Utang Jadi Wacana Baru, Skema Project Based Currency Dinilai Lebih Berkeadilan"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : <strong>Baghas Budi Wicaksono<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-2138 aligncenter\" src=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-300x200.avif\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-300x200.avif 300w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-1024x683.avif 1024w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-768x512.avif 768w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-1536x1024.avif 1536w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-2048x1365.avif 2048w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-480x320.avif 480w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/premium_photo-1661943489715-ea5e9dac7852-scaled.avif 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Image Source: Uplash<\/p>\n<p data-start=\"104\" data-end=\"472\">Jakarta \u2014 Wacana pembangunan infrastruktur tanpa ketergantungan pada utang kembali menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap beban fiskal jangka panjang. Dalam sebuah kajian terbaru, pendekatan <em data-start=\"307\" data-end=\"331\">Project Based Currency<\/em> (PBC) dinilai sebagai alternatif pembiayaan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan bagi Indonesia.<\/p>\n<p data-start=\"474\" data-end=\"973\">Pembangunan infrastruktur selama ini memang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Infrastruktur mempercepat distribusi barang dan jasa, membuka akses wilayah terisolasi, serta menciptakan lapangan kerja baru. Namun, pola pembiayaan yang dominan berbasis utang, baik domestik maupun luar negeri, dinilai menyimpan risiko serius. Selain menambah kewajiban pembayaran bunga, skema ini juga berpotensi menekan ruang fiskal negara dalam jangka panjang.<\/p>\n<p data-start=\"975\" data-end=\"1431\">Dalam praktiknya, ketergantungan terhadap utang kerap dianggap solusi cepat untuk mengejar pembangunan. Namun, konsekuensi fiskal yang muncul tidak sederhana. Pembayaran pokok dan bunga utang terus meningkat, yang pada akhirnya mengurangi alokasi anggaran untuk sektor sosial seperti pendidikan dan kesehatan. Bahkan, beban tersebut secara tidak langsung ditanggung masyarakat melalui pajak atau pengurangan subsidi.<\/p>\n<p data-start=\"1433\" data-end=\"1765\">Lebih jauh, kondisi ini juga memunculkan persoalan keadilan antargenerasi. Generasi mendatang berpotensi menanggung beban fiskal atas proyek yang tidak sepenuhnya mereka nikmati. Paradoks ini menjadi salah satu alasan perlunya pendekatan pembiayaan baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p data-start=\"1767\" data-end=\"2107\">Sebagai alternatif, konsep <em data-start=\"1794\" data-end=\"1818\">Project Based Currency<\/em> menawarkan pendekatan yang berbeda. Dalam skema ini, pembiayaan tidak lagi berbasis utang, melainkan pada nilai ekonomi yang dihasilkan langsung oleh proyek infrastruktur. Artinya, proyek diposisikan sebagai sumber nilai, bukan sumber beban fiskal.<\/p>\n<p data-start=\"2109\" data-end=\"2488\">Instrumen yang diterbitkan dalam skema ini tidak mengandung bunga tetap. Nilainya bergantung pada kinerja proyek, seperti peningkatan produktivitas, efisiensi logistik, maupun pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan demikian, risiko dan manfaat pembangunan dapat dibagi secara lebih proporsional antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.<\/p>\n<p data-start=\"2490\" data-end=\"2873\">Dari sisi sosial, pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan partisipasi masyarakat. Instrumen berbasis proyek dapat digunakan dalam aktivitas ekonomi lokal, seperti pembayaran tenaga kerja atau transaksi dengan pelaku usaha setempat. Hal ini mendorong perputaran ekonomi di sekitar proyek sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.<\/p>\n<p data-start=\"2875\" data-end=\"3231\">Sementara itu, dari perspektif makroekonomi, PBC berpotensi memperkuat stabilitas fiskal. Minimnya ketergantungan pada utang mengurangi tekanan terhadap anggaran negara dan nilai tukar. Selain itu, pendekatan ini juga mendorong selektivitas proyek, di mana hanya proyek yang benar-benar produktif yang akan dibiayai.<\/p>\n<p data-start=\"3233\" data-end=\"3647\">Dalam implementasinya, pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator dengan menetapkan zona ekonomi eksklusif sebagai pusat pertumbuhan baru. Insentif fiskal dan nonfiskal diberikan untuk menarik partisipasi swasta tanpa menciptakan kewajiban bunga. Aktivitas ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan.<\/p>\n<p data-start=\"3649\" data-end=\"3992\">Namun demikian, penerapan skema ini tidak tanpa tantangan. Aspek regulasi dan kelembagaan harus disiapkan secara matang agar tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan. Selain itu, kapasitas perencanaan proyek dan literasi ekonomi masyarakat juga menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\" data-start=\"3649\" data-end=\"3992\"><a href=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/Picturee.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2139 size-full\" src=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/Picturee.png\" alt=\"\" width=\"461\" height=\"308\" srcset=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/Picturee.png 461w, https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/04\/Picturee-300x200.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 461px) 100vw, 461px\" \/><\/a>Image Source: Penulis<\/p>\n<p data-start=\"3994\" data-end=\"4339\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Secara keseluruhan, <em data-start=\"4014\" data-end=\"4038\">Project Based Currency<\/em> menawarkan paradigma baru dalam pembangunan nasional. Dengan mengaitkan pembiayaan langsung pada nilai ekonomi proyek, pendekatan ini tidak hanya berpotensi mengurangi beban utang, tetapi juga mendorong pembangunan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p data-start=\"3994\" data-end=\"4339\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">\n<p data-start=\"3994\" data-end=\"4339\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Sumber:<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Baghas Budi Wicaksono Image Source: Uplash Jakarta \u2014 Wacana pembangunan infrastruktur tanpa ketergantungan pada utang kembali menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap beban fiskal jangka panjang. Dalam sebuah kajian terbaru, pendekatan Project Based Currency (PBC) dinilai sebagai alternatif pembiayaan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan bagi Indonesia. Pembangunan infrastruktur selama ini memang menjadi motor utama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":704,"featured_media":2140,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[23,17,19,28,18,52],"class_list":["post-2137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-kuliahmanajemen","tag-binusonline","tag-business-management","tag-kuliahfleksibelkariermeningkat","tag-kuliahonline","tag-sdgs"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/704"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2137"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2141,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137\/revisions\/2141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}