By: Marsha Indahsaputri

Halo BINUSIAN! Pernah nggak sih merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap mudah lelah, kehilangan motivasi, atau bahkan merasa pekerjaan yang dijalani belum benar-benar “klik” dengan diri sendiri? Di tengah dunia kerja yang serba cepat dan penuh tuntutan seperti sekarang, ternyata produktivitas saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana cara bekerja yang selaras dengan kekuatan diri agar karier bisa berkembang tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.

Pembahasan menarik ini hadir dalam webinar “From Potential to Performance Membangun Kinerja dan Karir Otentik” yang diselenggarakan pada 6 Maret 2026 lalu bersama Kang Jaka selaku Commercial Director Pathfinder Consulting. Melalui sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana mengenali potensi alami, membangun performa kerja yang lebih autentik, hingga menemukan makna dalam perjalanan karier di tengah dinamika dunia profesional modern.

Di era pasca-pandemi, dunia kerja mengalami transformasi yang signifikan. Sistem kerja fleksibel seperti Work from Home (WFH) dan Work from Office (WFO) membuat setiap individu dituntut untuk lebih mandiri dalam mengatur ritme kerja, menjaga produktivitas, hingga menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional. Fleksibilitas ini memang memberikan banyak keuntungan, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.

Berbagai riset global menunjukkan bahwa tingkat employee engagement cenderung mengalami penurunan, sementara stres, kecemasan, dan kelelahan mental justru meningkat. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa pendekatan pengembangan karier yang hanya berfokus pada memperbaiki kelemahan atau fixing weaknesses sudah tidak lagi cukup untuk menghadapi tuntutan dunia kerja modern.

Melalui pendekatan Strength-Based Career Development, individu diajak untuk lebih mengenali dan mengembangkan kekuatan alami yang dimiliki agar mampu bekerja secara optimal, lebih bermakna, dan berkelanjutan. Pendekatan ini menekankan bahwa performa terbaik bukan lahir dari memaksa diri menjadi seseorang yang “sempurna”, melainkan dari kemampuan memahami potensi diri dan memaksimalkan kekuatan yang sudah dimiliki secara alami.

Dalam dunia profesional, performa kerja umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan utama, yaitu meet expectation, exceed expectation, dan superb performance. Seseorang yang berada pada level meet expectation mampu menjalankan peran sesuai standar yang ditentukan. Pada level exceed expectation, individu mampu memberikan hasil di atas ekspektasi dalam tanggung jawab utamanya. Sementara itu, level superb menunjukkan performa unggul yang dilakukan secara konsisten bahkan dalam tanggung jawab yang lebih besar.

Lalu, bagaimana seseorang dapat mencapai performa tinggi tanpa mengalami burnout? Jawabannya terletak pada motivasi intrinsik. Mengacu pada pemikiran Daniel H. Pink, terdapat tiga elemen utama yang membentuk motivasi intrinsik, yaitu autonomy, mastery, dan purpose. Autonomy berkaitan dengan keinginan seseorang untuk memiliki kendali atas cara bekerja dan menjalani hidupnya. Mastery merupakan dorongan untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan diri. Sedangkan purpose adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang memiliki makna lebih besar daripada sekadar pekerjaan itu sendiri. Ketiga elemen ini akan berkembang lebih optimal ketika seseorang benar-benar memahami potensi, nilai, dan kekuatan dirinya.

Dalam sesi webinar tersebut juga dijelaskan bahwa istilah talent dan strength sering kali dianggap memiliki arti yang sama, padahal keduanya berbeda. Talent atau bakat merupakan pola pikir, perasaan, dan perilaku alami yang muncul secara konsisten dan dapat digunakan secara produktif. Sementara itu, strength atau kekuatan adalah aktivitas yang membuat seseorang merasa berenergi, menikmati prosesnya, serta mampu menghasilkan performa unggul.

Kang Jaka menjelaskan bahwa bakat alami tidak otomatis menjadi kekuatan tanpa adanya pengembangan lebih lanjut. Hal tersebut dapat dipahami melalui konsep berikut:

Strengths = Talents × (Attitude + Skills + Knowledge)

Artinya, seseorang perlu memiliki sikap yang tepat, keterampilan yang terus diasah, serta pengetahuan yang terus berkembang agar bakat alaminya benar-benar dapat menjadi kekuatan yang berdampak dalam karier maupun kehidupan profesional.

Untuk mengenali apakah suatu aktivitas benar-benar merupakan kekuatan diri, terdapat prinsip 4E yang dapat digunakan sebagai indikator. Pertama adalah Enjoy, yaitu aktivitas tersebut terasa menyenangkan untuk dilakukan. Kedua adalah Easy, di mana aktivitas tersebut relatif mudah dipelajari dan dijalankan. Ketiga adalah Excellent, yakni mampu menghasilkan performa atau kualitas yang unggul. Terakhir adalah Earn, yaitu aktivitas tersebut memberikan nilai atau manfaat, baik secara ekonomi maupun non-ekonomi.

Menariknya, apabila seseorang merasa menikmati dan mahir dalam suatu aktivitas tetapi belum menghasilkan nilai, maka aktivitas tersebut masih berada pada level hobi. Sebaliknya, jika suatu pekerjaan menghasilkan uang tetapi tidak memberikan rasa nyaman dan menyenangkan, kondisi tersebut berpotensi menjadi sumber kelelahan jangka panjang. Karena itu, karier yang autentik sesungguhnya berada pada titik temu dari keempat elemen tersebut.

Dalam upaya membangun karier yang lebih bermakna, seseorang juga perlu melakukan eksplorasi terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Dari sisi internal, individu perlu memahami apa yang benar-benar disukai dan kemampuan terbaik yang dimiliki. Dari sisi eksternal, seseorang perlu melihat apa yang dibutuhkan dunia dan aktivitas apa yang memiliki nilai ekonomi. Titik temu dari seluruh aspek tersebut dikenal sebagai IKIGAI, yaitu alasan seseorang untuk hidup dan bekerja dengan penuh makna.

Salah satu instrumen yang digunakan dalam proses eksplorasi ini adalah Talents Mapping, sebuah asesmen berbasis psikologi positif yang mengadaptasi 34 tema bakat dari pendekatan Clifton Strengths Gallup. Melalui asesmen ini, individu dapat memahami urutan bakat dominan yang membentuk dinamika kepribadiannya.

Bakat-bakat tersebut kemudian dipetakan ke dalam empat kelompok utama, yaitu thinking, striving, influencing, dan relating. Kelompok thinking menggambarkan individu yang senang berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah. Striving menggambarkan pribadi yang disiplin, pekerja keras, dan berorientasi pada target. Influencing berkaitan dengan kemampuan memengaruhi dan menggerakkan orang lain, sedangkan relating menunjukkan kecenderungan membangun hubungan dan kolaborasi yang kuat dengan lingkungan sekitar.

Hasil pemetaan bakat pada akhirnya dapat membantu seseorang membangun personal branding yang lebih autentik. Kekuatan dominan yang dimiliki seseorang akan membentuk strength typology atau tipe kekuatan tertentu. Misalnya, individu dengan kekuatan communicator mampu menjelaskan ide secara jelas dan menarik. Visionary memiliki kemampuan melihat peluang dan arah masa depan. Strategist mampu menentukan langkah terbaik secara objektif, sedangkan marketer memiliki kemampuan mengemas ide agar menarik perhatian publik.

Meski berfokus pada kekuatan diri, pendekatan strength-based bukan berarti mengabaikan kelemahan. Individu tetap perlu mengelola keterbatasan secara strategis. Dalam webinar tersebut dijelaskan terdapat empat pendekatan utama yang dapat dilakukan, yaitu memilih peran yang sesuai dengan kekuatan dominan, berkolaborasi dengan individu yang memiliki kekuatan berbeda, mengembangkan kompetensi teknis sekaligus memanfaatkan teknologi pendukung, serta membangun pola kerja yang paling sesuai dengan karakter dan gaya produktivitas masing-masing.

Tidak sedikit individu yang sebenarnya kompeten, tetapi merasa cepat lelah dan kehilangan makna dalam pekerjaannya. Kondisi ini sering kali terjadi ketika seseorang terus dipaksa bekerja di area yang tidak sesuai dengan kekuatan alaminya. Padahal, karier yang sukses dan berkelanjutan tidak dibangun dengan cara memaksa diri menjadi orang lain.

Melalui pendekatan Strength-Based Career Development, setiap individu diajak untuk memahami bahwa setiap orang memiliki potensi unik untuk bertumbuh dan berkontribusi. Dengan mengenali bakat alami, mengasahnya menjadi kekuatan, serta menempatkannya pada peran yang tepat, seseorang tidak hanya mampu mencapai performa unggul, tetapi juga dapat menjalani karier yang lebih sehat, bermakna, dan autentik.