Sebelum kita mulai, ada pertanyaan yang perlu kita jawab :  

“Apakah menurut Anda, seorang pemimpin perusahaan harus memahami cara kerja data sosial secara teknis, atau cukup memahami hasilnya saja?” 

Kita masuk ke dalam materi memimpin dengan Sosial Media Analisis.  

Sekadar memiliki alat analitik media sosial tidaklah cukup. Analitik harus dipimpin dan diarahkan secara strategis agar mendukung business goals organisasi. Artinya, keberhasilan analitik bukan diukur dari seberapa banyak data yang dikumpulkan, tetapi dari sejauh mana hasil analitik itu berkontribusi pada pengambilan keputusan dan perencanaan strategis. 

Kepemimpinan bukan hanya posisi, melainkan serangkaian kompetensi sosial, teknis, dan strategis. 

Terdapat beberapa langkah kunci yang dijelaskan 

Langkah 1. Menetapkan Tujuan yang Jelas 

Pemimpin harus memulai dengan menjawab pertanyaan mendasar: 

“Apa yang ingin kita capai melalui analitik media sosial?” 

Contoh tujuan: 

  • Meningkatkan customer engagement (keterlibatan pelanggan), 
  • Meningkatkan brand awareness, 
  • Menggerakkan penjualan (driving sales). 

Tujuan ini kemudian menjadi arah bagi seluruh proses analitik: mulai dari pengumpulan data hingga interpretasi hasil. 

Langkah 2. Membangun Tim yang Kompeten 

Keberhasilan analitik sosial tergantung pada kemampuan lintas disiplin.
Tim yang ideal mencakup: 

  1. Data scientists → fokus pada pengumpulan dan analisis data. 
  2. Social media managers → memahami konteks interaksi sosial digital. 
  3. Business analysts → menerjemahkan data menjadi business insight. 

Tugas utama tim ini adalah: 

  • Mengelola data, 
  • Menganalisis hasil, 
  • Mentransformasikan insight menjadi rekomendasi strategis. 

Langkah 3. Pilih Alat yang Tepat 

Pemimpin harus memastikan alat analitik yang digunakan: 

  • Selaras dengan kebutuhan bisnis, 
  • Mampu melacak metrik yang relevan (engagement rate, conversion rate, sentiment analysis). 

Alat yang salah dapat membuat tim sibuk memproses data tanpa arah strategis.
Pemilihan tools yang tepat menuntut pemahaman ganda — teknis (kemampuan alat) dan sosial (bagaimana hasilnya digunakan dalam komunikasi organisasi). 

Langkah 4. Menumbuhkan Budaya Berbasis Data 

Yang lebih penting adalah membangun budaya organisasi di mana setiap individu — dari staf operasional hingga pimpinan — menggunakan data sosial sebagai dasar berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan. 

Referensi :  

  1. Khan, Gohar F. (2024), Creating Value with Social Media Analytics , 3rd Edition, Seatle WA 98108-0683 USA, CreateSpace Independent Publishing, ISBN: 9798325038679