Refleksi dari Studi “User Experience Analysis on the Bobobox Mobile Application

Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan layanan. Aplikasi mobile kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—mulai dari memesan layanan, melakukan transaksi, hingga mengakses informasi secara instan. Namun, seberapa nyaman dan efektif aplikasi tersebut digunakan?

Pertanyaan inilah yang menjadi dasar penelitian berjudul “User Experience Analysis on the Bobobox Mobile Application.” Studi ini menekankan pentingnya evaluasi pengalaman pengguna sebagai indikator keberhasilan platform digital.

User Experience Bukan Sekadar Tampilan

Menurut ISO 9241-210, user experience mencakup persepsi dan respons pengguna yang dihasilkan dari penggunaan suatu sistem, produk, atau layanan (ISO, 2010). Artinya, UX bukan hanya tentang desain visual, tetapi tentang bagaimana aplikasi mampu memberikan pengalaman yang memuaskan dan mendukung keberhasilan organisasi.

Dalam poster penelitian disebutkan:

“Considering the important role of User Experience (UX) in the company’s applications, this encourages companies to ensure user satisfaction and application success.”

Sejalan dengan itu, Garrett (2011) menjelaskan bahwa UX mencakup berbagai lapisan, mulai dari strategi, ruang lingkup, struktur, kerangka, hingga tampilan visual. Jika salah satu aspek tidak optimal, maka pengalaman pengguna secara keseluruhan dapat terdampak.

Pendekatan Evaluasi yang Terukur

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen yang telah diakui secara internasional, yaitu:

  • System Usability Scale (SUS) yang dikembangkan oleh Brooke (1996)
  • Standar usability ISO 9241-11
  • Kuesioner berbasis skala Likert

SUS sendiri merupakan instrumen sederhana namun sangat andal dalam mengukur usability sistem, dengan rentang skor 0–100 (Brooke, 1996). Menurut Bangor, Kortum, & Miller (2009), skor di atas 80 termasuk dalam kategori excellent dan menunjukkan tingkat penerimaan yang sangat baik.

Dalam bagian metodologi pada poster dijelaskan:

“Before collecting data, we ensured that all instruments for data gathering were validated and aligned with the study objectives.”

Langkah ini menunjukkan bahwa penelitian dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan prinsip penelitian ilmiah.

Hasil Evaluasi: Tingkat Usability Sangat Baik

Berdasarkan hasil pengukuran, aplikasi yang diteliti memperoleh skor SUS sebesar 85.3, yang termasuk dalam kategori Highly Usable.

Dalam abstrak poster juga disebutkan:

“With 40 respondents, the application achieved a SUS score of 85.3, indicating high usability.”

Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas pengguna merasa aplikasi mudah digunakan dan memberikan pengalaman yang positif. Aspek efektivitas, efisiensi, dan kepuasan memperoleh penilaian dominan pada kategori “Good”.

Menurut Nielsen (1993), usability yang baik akan meningkatkan produktivitas pengguna serta mengurangi tingkat kesalahan (errors). Hal ini juga tercermin dalam hasil penelitian yang menunjukkan tingkat kesalahan penggunaan relatif rendah.

 Rekomendasi Pengembangan Berbasis Analisis

Untuk menentukan prioritas perbaikan, penelitian ini menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA). Metode ini membantu pengambil keputusan mengevaluasi berbagai alternatif berdasarkan sejumlah kriteria seperti efektivitas, biaya, risiko, dan kelayakan (Saaty, 2008).

Poster menyebutkan bahwa:

“The MCDA revealed that simplifying processes and enhancing visual design were among the most effective improvement strategies.”

Pendekatan berbasis data ini memastikan bahwa rekomendasi pengembangan tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi pada analisis yang sistematis.

Mengapa Evaluasi UX Penting bagi Dunia Pendidikan dan Industri?

Dalam konteks pendidikan tinggi dan industri digital, evaluasi UX memberikan dua manfaat utama:

  1. Memberikan dasar pengambilan keputusan berbasis data
  2. Meningkatkan kualitas layanan digital secara berkelanjutan

Sebagaimana ditegaskan oleh Norman (2013), desain yang berpusat pada manusia (human-centered design) menjadi kunci dalam menciptakan produk digital yang sukses.

Penutup

Penelitian ini menegaskan bahwa pengukuran User Experience merupakan langkah strategis dalam pengembangan platform digital. Dengan pendekatan terstruktur dan standar internasional, institusi pendidikan maupun pelaku industri dapat memastikan bahwa inovasi teknologi benar-benar memberikan pengalaman yang optimal bagi pengguna.

UX bukan sekadar estetika, tetapi fondasi keberhasilan transformasi digital.

Referensi:

  1. Bangor, A., Kortum, P., & Miller, J. (2009). Determining what individual SUS scores mean: Adding an adjective rating scale. Journal of Usability Studies, 4(3), 114–123.
  2. Brooke, J. (1996). SUS: A quick and dirty usability scale. In P. W. Jordan et al. (Eds.), Usability Evaluation in Industry. London: Taylor & Francis.
  3. Garrett, J. J. (2011). The Elements of User Experience: User-Centered Design for the Web and Beyond. New York: New Riders.
  4. (2010). ISO 9241-210: Ergonomics of human-system interaction – Human-centred design for interactive systems.
  5. Nielsen, J. (1993). Usability Engineering. San Diego: Academic Press.
  6. Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83–98.
  7. Norman, D. A. (2013). The Design of Everyday Things. New York: Basic Books.
  8. Permana, G.J., Shalihah, M. & Pramita, N. (2024). User Analysis on The Bobobox Mobile Aplication [Undergraduate thesis, Universitas Bina Nusantara].