{"id":30,"date":"2025-02-04T04:13:47","date_gmt":"2025-02-04T04:13:47","guid":{"rendered":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/?p=30"},"modified":"2025-02-04T04:13:47","modified_gmt":"2025-02-04T04:13:47","slug":"long-term-career-strategies-amidst-tech-winter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/2025\/02\/04\/long-term-career-strategies-amidst-tech-winter\/","title":{"rendered":"Long-term Career Strategies Amidst Tech Winter"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: Alldino Syaman, S.Kom. (Alumni PJJ Sistem Informasi)<\/p>\n<p>Editor: Reno Hadi (SCA\u2019s Team)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam beberapa dekade terakhir, kecerdasan buatan atau yang saat ini dikenal dengan Artificial Intelligence (AI), telah menjadi salah satu inovasi teknologi paling signifikan yang mengubah berbagai aspek kehidupan. Otomasi yang ditawarkan oleh AI memudahkan lini produksi dengan mengurangi kesalahan manusia sekaligus mempercepat proses produksi barang. Namun, kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan AI menimbulkan kekhawatiran mendalam terkait dampaknya terhadap pekerjaan manusia, sebab di sisi lain otomatisasi oleh AI menjadi salah satu penyebab layoff atau PHK saat ini.<\/p>\n<p>Lalu bagaimana bagaimana kita menghadapi Badai PHK yang muncul karena perkembangan teknologi seperti AI? Saya akan membahas pada artikel ini berdasarkan pengalaman saya saat terkena layoff.<\/p>\n<p><strong>Awal PHK Melambung<\/strong><\/p>\n<p>Berawal sebelum pandemi COVID-19 melanda, perusahaan\u00a0<em>startup<\/em>\u00a0dan teknologi di Indonesia, seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Blibli, mengalami pertumbuhan pesat. Kebutuhan pasar yang besar membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan ini untuk merekrut banyak tenaga ahli guna mendorong transformasi digital dan memudahkan masyarakat mengakses layanan mereka.<\/p>\n<p>Namun, persaingan perekrutan yang begitu ketat menyebabkan praktik \u201cbajak-membajak\u201d tenaga kerja ahli semakin marak. Hal ini berdampak negatif pada stabilitas pasar tenaga kerja di Indonesia.<\/p>\n<p>Selama pandemi COVID-19, kebutuhan akan tenaga kerja ahli justru semakin meningkat. Namun, hal ini juga memicu \u201cgelembung\u201d perekrutan yang tidak berkelanjutan. Banyak perusahaan, baik startup maupun tradisional, melakukan perekrutan besar-besaran tanpa mempertimbangkan kondisi jangka panjang.<\/p>\n<p>Ketika pandemi mulai mereda dan memasuki masa endemi, \u201cgelembung\u201d perekrutan tersebut pecah. Akibatnya, terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor\u00a0<em>startup<\/em>\u00a0dan teknologi. Praktik \u201cbajak-membajak\u201d tenaga kerja yang sebelumnya marak juga menjadi salah satu faktor penyebab banyak perusahaan tidak dapat bertahan, selain itu standar gaji yang tidak sehat akibat persaingan perekrutan yang tidak sehat turut membebani keuangan perusahaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PHK Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<p>Data Kementerian Ketenagakerjaan dari tahun 2022 hingga Juli 2024 menunjukkan peningkatan signifikan angka PHK, yang mengindikasikan banyaknya tenaga kerja, terutama di sektor\u00a0<em>startup<\/em>\u00a0dan teknologi, yang menjadi korban \u201cgelembung\u201d perekrutan yang pecah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-282 aligncenter\" src=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/12\/Layoff.png\" alt=\"\" width=\"412\" height=\"255\" \/><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/satudata.kemnaker.go.id\/data\/kumpulan-data\">Source: Kemenaker<\/a><\/p>\n<p>Berdasarkan data yang dipaparkan, terlihat adanya peningkatan signifikan pada jumlah tenaga ahli yang terkena dampak PHK massal sejak tahun 2022 hingga Juli 2024. Lonjakan angka PHK ini memaksa banyak perusahaan dalam negeri untuk melakukan efisiensi operasional guna menjaga keberlangsungan bisnis.<\/p>\n<p>Namun, PHK massal tidak semata-mata disebabkan oleh upaya efisiensi keuangan perusahaan. Perkembangan teknologi yang pesat juga menjadi faktor pendorong utama yang memperparah situasi ini, menciptakan efek domino yang memicu gelombang PHK yang semakin meluas.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-283 aligncenter\" src=\"https:\/\/online.binus.ac.id\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/12\/Job-Roles.png\" alt=\"\" width=\"514\" height=\"307\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.persolkelly.co.id\/apac-workforce-insights\">Source: Persolkelly<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.persolkelly.co.id\/apac-workforce-insights\">Workforce insight 2024<\/a><\/p>\n<p>Berdasarkan survei\u00a0<em>Persolkelly<\/em>, kecerdasan buatan (<em>AI<\/em>) teridentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang memicu PHK massal. Perkembangan pesat teknologi\u00a0<em>AI<\/em>\u00a0telah menggantikan sejumlah posisi pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia karena dianggap lebih efisien.<\/p>\n<p><strong>Menghadapi Badai PHK<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai seorang pekerja di industri startup, saya tidak luput dari dampak PHK massal. Perusahaan terpaksa melakukan efisiensi biaya, dan sayangnya saya menjadi salah satu yang harus meninggalkan perusahaan. Namun, saya optimis bahwa pengalaman yang telah saya peroleh di industri ini akan membuka peluang baru untuk mengembangkan karier di masa depan.\u201d.<\/p>\n<p><strong><em>\u201cKeep up with trend or die slowly\u201d<\/em><\/strong>\u00a0adalah slogan yang saya gunakan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dunia terus berubah dan kita harus terus beradaptasi. Setelah mengalami PHK, slogan ini menjadi semakin relevan. Saya yakin bahwa dengan terus belajar dan mengembangkan diri, saya akan mampu menghadapi tantangan di masa depan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dengan terus mengikuti perkembangan teknologi terkini seperti keamanan siber (<em>Cyber Security)<\/em>, kecerdasan buatan (AI), teknologi cloud, dan Web 5.0, kita sebagai tenaga ahli memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan di dunia kerja yang dinamis. Meskipun tidak ada jaminan pasti untuk mendapatkan pekerjaan di bidang-bidang tersebut, namun dengan memperkaya pengetahuan dan keterampilan, kita akan lebih siap menghadapi perubahan tren pekerjaan di masa depan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Gelombang PHK massal, atau bahasa populer yang kita kenal yaitu\u00a0<em>\u201cLayoff\u201d<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>\u201cTech Winter\u201d\u00a0<\/em>memang memberikan pengalaman pahit bagi kita, namun dari hal tersebut ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan di masa sulit seperti ini.<\/p>\n<p>Menghadapi masa sulit seperti PHK massal atau \u201c<em>tech winter<\/em>\u201d memang membutuhkan persiapan yang matang, terutama dari segi mental. Manajemen stres dan\u00a0<em>mindfulness<\/em>\u00a0menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental kita. Istirahat yang cukup dan memisahkan waktu kerja dengan waktu pribadi juga sangat penting. Perlu diingat bahwa setiap individu memiliki cara mengatasi stres yang berbeda. Jika merasa kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.<\/p>\n<p>Saya akhiri artikel ini dengan kutipan dari John F. Kennedy yang sangat relevan, yaitu \u201cPerubahan adalah hukum kehidupan.\u201d Kutipan ini mengingatkan kita bahwa dunia terus bergerak maju. Jika kita hanya terpaku pada masa lalu atau kondisi saat ini, kita akan kesulitan untuk beradaptasi dan meraih kesuksesan di masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Alldino Syaman, S.Kom. (Alumni PJJ Sistem Informasi) Editor: Reno Hadi (SCA\u2019s Team) &nbsp; Dalam beberapa dekade terakhir, kecerdasan buatan atau yang saat ini dikenal dengan Artificial Intelligence (AI), telah menjadi salah satu inovasi teknologi paling signifikan yang mengubah berbagai aspek kehidupan. Otomasi yang ditawarkan oleh AI memudahkan lini produksi dengan mengurangi kesalahan manusia sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":708,"featured_media":31,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-30","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-whats-on"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/users\/708"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30\/revisions\/32"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/online.binus.ac.id\/malang\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}