Mengembangkan Kesadaran Sosial : “Kunci Mengatasi Masalah Pergaulan di Sekolah”

Oleh : Christopher Joshua Leksana

Dosen Pjj Management , Faculty Member Structural BiON

Topik ini sangat relevan dengan konteks pendidikan, karena pergaulan bisa menjadi aspek yang kompleks dan menantang dalam kehidupan para siswa.

DEFINISI dari PERGAULAN menurut para ahli :

George Herbert Mead: Seorang ahli sosiologi dan filsuf, Mead memandang pergaulan sebagai proses sosial yang melibatkan interaksi antara individu melalui bahasa dan simbol. Menurut Mead, melalui interaksi sosial, individu mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri dan peran mereka dalam masyarakat.

William Schutz: Psikolog sosial yang mengembangkan Teori Pembebanan Interpersonal, Schutz memandang pergaulan sebagai cara individu memenuhi tiga kebutuhan dasar: cinta dan penerimaan, kontrol, dan ketertarikan. Dia menggambarkan bagaimana orang mencari interaksi sosial yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini.

Teori Pengembangan Psikososial

Erik Erikson adalah seorang psikolog perkembangan yang terkenal dengan Teori Pengembangan Psikososial. Dalam teorinya, ia mengidentifikasi serangkaian tahapan perkembangan yang melibatkan konflik psikososial yang harus diatasi oleh individu selama masa hidup mereka. Salah satu tahapan yang relevan dengan pergaulan masa sekolah adalah tahapan keempat, yang disebut “Tahapan Identitas vs. Peran Bingung” (Identity vs. Role Confusion).

Tahapan Identitas vs. Peran Bingung ini terjadi selama masa remaja, termasuk masa SMA. Pada tahapan ini, remaja berusaha untuk memahami dan membentuk identitas mereka sendiri, termasuk identitas sosial, emosional, dan konsep diri mereka. Konflik dalam tahapan ini adalah antara pencarian identitas yang kokoh dan rasa bingung atau kebingungan peran.

Pergaulan anak-anak di sekolah sangat relevan dengan tahapan ini. Erikson percaya bahwa pergaulan dengan teman sebaya memainkan peran penting dalam pengembangan identitas remaja. Melalui interaksi sosial di sekolah, remaja mencoba peran berbeda, mengeksplorasi nilai-nilai, norma sosial, dan ekspektasi masyarakat, serta mencari tahu di mana mereka cocok dalam masyarakat.

Jika remaja berhasil mengatasi konflik identitas vs. peran bingung, mereka akan mengembangkan identitas yang kuat dan merasa yakin tentang siapa mereka dan apa yang mereka inginkan dalam kehidupan. Namun, jika konflik ini tidak teratasi, remaja dapat mengalami kebingungan peran dan ketidakpastian tentang siapa mereka

Dalam konteks pergaulan di sekolah, tahapan ini dapat menggambarkan bagaimana remaja mencoba untuk bergaul dengan berbagai kelompok sosial, mengeksplorasi minat mereka, dan mencari tahu identitas mereka sebagai individu. Pergaulan dengan teman sebaya di sekolah dapat membantu mereka mengenali nilai-nilai, minat, dan aspirasi mereka sendiri, yang pada gilirannya dapat membantu mereka mengembangkan identitas yang stabil.

Pergaulan erat kaitannya dengan proses sosialisasi. Sosialisasi adalah proses di mana individu belajar dan menginternalisasi norma, nilai, perilaku, dan keterampilan yang diperlukan untuk berfungsi secara sosial dalam masyarakat tertentu. Pergaulan adalah salah satu cara utama di mana individu terlibat dalam proses sosialisasi ini.

ADA 2 BENTUK SOSIALISASI, yaitu:

  1. SOSIALISASI PRIMER : Sosialisasi primer merujuk pada proses sosialisasi yang terjadi pada tahap awal kehidupan individu. Ini biasanya dimulai sejak individu lahir dan berlangsung selama masa anak-anak. Sosialisasi primer terjadi melalui interaksi dengan anggota keluarga inti, seperti orang tua, saudara, atau anggota keluarga yang merawat anak. Selama proses ini, individu mempelajari keterampilan dasar, nilai-nilai keluarga, dan norma-norma sosial yang mendasar.

CONTOH  SOSIALISASI PRIMER : Orang tua adalah sumber utama sosialisasi primer. Ketika orang tua mencium tangan sebagai tanda penghormatan kepada tamu atau orang lain, anak-anak mereka cenderung mengamati dan meniru tindakan tersebut. Ini adalah salah satu cara di mana anak-anak mempelajari norma sosial dan perilaku sopan di lingkungan keluarga.

  1. SOSIALISASI SEKUNDER

Sosialisasi sekunder terjadi setelah individu mengalami sosialisasi primer dan berlanjut sepanjang hidup mereka. Ini melibatkan interaksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas di luar keluarga, seperti teman sebaya, sekolah, tempat kerja, masyarakat, dan media massa. Selama sosialisasi sekunder, individu memperluas pengetahuan mereka tentang norma sosial, nilai-nilai, dan ekspektasi sosial yang lebih kompleks.

CONTOH SOSIALISASI SEKUNDER : Guru membantu mengajarkan norma-norma sosial dan etika yang berlaku dalam masyarakat yang lebih luas. Mereka mengajarkan siswa bagaimana berperilaku secara sopan, menghormati orang lain, dan berinteraksi dengan baik dalam lingkungan yang lebih luas.

BEDA GENERASI  so pasti BEDA KOMUNIKASI

Istilah “Beda Generasi, Beda Komunikasi” merujuk pada pemahaman bahwa cara individu berkomunikasi, mengungkapkan diri, dan berinteraksi dapat bervariasi secara signifikan antara berbagai generasi yang berbeda dalam masyarakat.

“Generasi tertua adalah generasi Baby Boomers. Orang-orang yang lahir pada sekitar tahun 1946 sampai dengan 1964 merupakan orang-orang yang termasuk pada generasi baby boomers – Secara umum, orang-orang yang termasuk ke dalam generasi ini memiliki karakter kaku, kuno, dan cenderung mengikuti aturan. Hal itu disebabkan, mereka terpengaruh dan terdidik dari orang tua yang hidup sebagai generasi tradisionalis yang memiliki masa merintis industri baru dan baru saja selesai perang. Oleh karenanya, kedisiplinan dan ketekunan adalah hal-hal yang dididik kepada orang-orang yang termasuk dalam generasi baby boomers.

Generasi X, untuk orang-orang yang lahir antara 1965 sampai dengan 1980.memiliki karakter lebih lentur, luwes, dan fleksibel. Mereka bisa melakukan manuver-manuver tertentu berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang ada.

Generasi Y atau milenial, inilah istilah untuk mereka yang lahir antara 1981 sampai dengan 1995. Generasi ini memiliki karakter yang sangat senang bermain.

Bila generasi X bekerja sangat fokus dan tidak bermain sambil bekerja, lain halnya dengan si Y. “Mereka menggabungkan antara bekerja dan bermain di waktu yang sama. Sebab, mereka memiliki moto You Only Live Once atau YOLO. Oleh karena hidup hanya sekali, dia ingin  integrasikan main dan kerja di waktu yang sama

Generasi Z

Inilah generasi yang lahir pada 1996 sampai 2010. Menurut Becky dan Erwin, generasi ini memiliki karakter pesimistis melihat kondisi di luar diri mereka, namun mereka sangat optimistis melihat diri mereka sendiri. “Me, myself, and I.

Generasi Z merupakan generasi yang bisa mengoperasikan lima gawai dalam sekali waktu. Sehingga kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sangat multitasking.

CASE STUDY VIDEO :

  1. https://www.youtube.com/watch?v=rRFKxtMd–E
  2. https://www.youtube.com/watch?v=K3mAWQti0gU

Kesimpulan :

Kesadaran sosial membantu siswa menghadapi berbagai tantangan dalam interaksi sosial mereka dan mendorong pembentukan hubungan yang lebih sehat dan positif. Terdapat 3 hal penting untuk mengembangkan KESADARAN SOSIAL dalam mengatasi masalah pergaulan di sekolah:

  1. Perkuat IMAN dan Pengamalan PANCASILA
  2. Peran ORANGTUA (KELUARGA)
  3. Peran GURU / Para Pendidik

 

Referensi :

  1. https://ditsmp.kemdikbud.go.id/kiat-pencegahan-pergaulan-bebas-di-kalangan-remaja/
  2. https://www.detik.com/bali/berita/d-6439775/pencegahan-pergaulan-bebas-dapat-dilakukan-oleh-diri-sendiri-dengan-cara
  3. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20220802123133-33-360451/pergaulan-bebas-ciri-ciri-dampak-cara-buat-menghindarinya
  4. Wardani , 2021 , Edukasi tentang Pergaulan Remaja yang Sehat di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, DOI: https://doi.org/10.31943/abdi.v3i1.32
  5. https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/