
Dari Prompt ke Automation, Alumni BINUS Online Ajak Mahasiswa Baru Manfaatkan AI untuk Ciptakan Value

Bekasi, 29 Agustus 2026 — Perkembangan artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar terhadap cara individu belajar, bekerja, dan menciptakan solusi. Namun, kemampuan menggunakan AI tidak lagi cukup hanya dengan menghasilkan jawaban melalui prompt. Pengguna perlu memahami bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam proses kerja untuk menciptakan efisiensi dan menghasilkan nilai yang lebih besar.
Pesan tersebut menjadi salah satu insight utama yang disampaikan Siska Nurul Chotimah, S.M., alumni Business Management BINUS Online sekaligus Co-Founder & Operation Director PT Japi Edutech Indonesia (JAPI AI), dalam kegiatan New Student Gathering BINUS Online yang diselenggarakan secara onsite di BINUS Learning Community Bekasi, Sabtu (29/8).
Mengangkat materi “From Prompt to Automation”, Siska mengajak mahasiswa baru untuk melihat AI bukan sekadar sebagai alat untuk mencari informasi atau membantu menyelesaikan tugas, melainkan sebagai teknologi yang dapat diintegrasikan ke dalam workflow untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan value.
Materi yang disampaikan dirancang untuk membawa peserta melalui sebuah perjalanan dari pemahaman fundamental AI, penggunaan prompt, pemilihan AI tools, hingga membangun automation. Dalam presentasinya, Siska menjelaskan bahwa terdapat empat tahapan dalam perjalanan menciptakan value melalui AI, yaitu Learn, Use, Embed, dan Create Value.
Pada tahap Learn, pengguna perlu memiliki AI literacy dengan memahami cara kerja, kemampuan, serta keterbatasan AI. Selanjutnya, pada tahap Use, AI mulai digunakan dalam aktivitas sehari-hari sehingga terbentuk kebiasaan dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Namun, menurut materi yang disampaikan Siska, tantangan terbesar justru muncul ketika pengguna perlu bergerak dari tahap Use menuju Embed. Pada tahap ini, AI tidak lagi sekadar digunakan secara individual, tetapi mulai diintegrasikan ke dalam workflow. Tahap berikutnya adalah Create Value, ketika penggunaan AI mampu menghasilkan dampak yang lebih nyata, seperti menghemat waktu, meningkatkan kualitas pekerjaan, atau menciptakan kapasitas dan peluang baru.
Dari Prompt yang Baik Menuju Sistem yang Bekerja
Salah satu bagian penting dalam sesi tersebut adalah bagaimana mahasiswa dapat membuat prompt yang lebih terstruktur. Siska memperkenalkan beberapa framework yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu RTC (Role, Task, Context) untuk tugas sederhana dan iterasi cepat, STAR (Situation, Task, Action, Result) untuk kebutuhan yang bersifat naratif atau studi kasus, serta RCTFC (Role, Context, Task, Format, Constraint) untuk pekerjaan yang lebih kompleks dan formal.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa penggunaan AI bukan sekadar tentang seberapa panjang prompt yang diberikan, tetapi seberapa jelas pengguna menyampaikan konteks, tujuan, format, serta batasan yang dibutuhkan.
Siska juga memperkenalkan konsep prompt layering, yaitu membangun instruksi AI dalam beberapa lapisan. Dalam konteks AI agent, terdapat elemen seperti identity, context, skills, dan tools yang membantu AI memahami siapa dirinya, informasi apa yang perlu diketahui, bagaimana cara bekerja, serta akses apa yang dapat digunakan. Dengan struktur tersebut, pekerjaan yang dilakukan secara berulang dapat dijalankan dengan instruksi yang lebih sederhana karena fondasi sistemnya telah dibangun sebelumnya.
AI Tidak Harus Sama untuk Semua Orang
Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga diajak memahami konsep “AI Stack is Personal”. Tidak ada satu kombinasi tools AI yang harus digunakan oleh semua orang. Pemilihan tools perlu disesuaikan dengan kebutuhan, konteks pekerjaan, serta cara masing-masing individu bekerja.
Dalam presentasinya, Siska membagikan sejumlah tools yang digunakan dalam aktivitasnya, di antaranya Claude, ChatGPT, Gemini, Japi AI, Notion, DeepSeek, OpenRouter, Higgsfield, dan ElevenLabs.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi AI tidak berhenti pada kemampuan mengenal satu platform, tetapi juga kemampuan untuk memahami kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa sebuah tools digunakan.
Dari Augmentation Menuju Automation
Lebih jauh, Siska memperkenalkan tiga zona penciptaan value melalui AI, yaitu Augmentation, Automation, dan Transformation.
Pada zona Augmentation, manusia bekerja bersama AI untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan pekerjaan. Sementara itu, pada zona Automation, AI mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin sehingga manusia dapat mengalokasikan waktunya untuk aktivitas yang memiliki nilai lebih tinggi. Adapun pada zona Transformation, AI memungkinkan terciptanya cara kerja, layanan, produk, bahkan model bisnis yang sebelumnya belum tersedia.
Sesi kemudian diarahkan pada pemahaman mengenai AI automation. Siska menjelaskan bahwa sebuah automation dapat dibangun melalui empat komponen utama, yaitu Trigger, AI Agent, Prompt, dan Workflow.
Trigger menjadi pemicu dimulainya proses, seperti jadwal atau pesan yang masuk. AI Agent berperan sebagai “otak” yang melakukan penalaran dan eksekusi dengan memanfaatkan model AI, tools, serta context. Prompt memberikan instruksi mengenai apa yang harus dilakukan, sedangkan workflow menentukan urutan proses hingga menghasilkan output akhir.
Sebagai contoh, peserta diperkenalkan pada konsep Daily Task List Producer, sebuah automation yang dapat membantu menyusun daftar tugas harian secara otomatis berdasarkan catatan meeting, tugas sebelumnya, serta pekerjaan rutin. Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana AI dapat bergerak dari sekadar menjawab pertanyaan menjadi sistem yang membantu menjalankan proses kerja secara berulang.
Teknologi Saja Tidak Cukup
Salah satu pesan penting dari materi Siska adalah bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi.
Dalam presentasi tersebut, prinsip 10/20/70 digunakan untuk menggambarkan pentingnya manusia dan proses dalam implementasi AI: 10% berkaitan dengan model dan tools AI, 20% dengan teknologi dan data, sementara 70% berkaitan dengan people and process, termasuk pelatihan, redesign workflow, change management, dan governance. Materi tersebut mencantumkan BCG sebagai sumber prinsip 10/20/70.
Pesan ini menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memasuki lingkungan pembelajaran dan dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. Penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis, memahami kebutuhan, menyusun proses, dan mengambil keputusan.
Alumni BINUS Online, Kembali Berbagi untuk Binusian Baru
Kehadiran Siska dalam New Student Gathering juga memiliki makna tersendiri. Sebagai alumni Business Management BINUS Online, ia tidak hanya hadir sebagai praktisi yang membagikan pengetahuan mengenai AI, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan BINUS Online yang kini kembali memberikan insight kepada mahasiswa generasi berikutnya.
Pengalaman Siska menjadi gambaran bahwa proses pembelajaran di BINUS Online dapat menjadi salah satu fondasi untuk terus berkembang setelah menyelesaikan pendidikan. Pengalaman akademik sebagai mahasiswa Business Management kemudian berlanjut ke dunia profesional dan entrepreneurship melalui perannya sebagai Co-Founder & Operation Director PT Japi Edutech Indonesia (JAPI AI).
Kiprahnya di bidang AI dan pendidikan juga tercermin dari aktivitas Japi AI dalam menghadirkan AI Learning System serta pengembangan pembelajaran yang lebih personal dan adaptif. Japi AI, misalnya, mengembangkan pendekatan AI-powered learning yang memungkinkan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang lebih personal dengan dukungan AI.
Bagi mahasiswa baru BINUS Online, pengalaman tersebut dapat menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti ketika perkuliahan selesai. Pengetahuan yang diperoleh selama masa studi dapat terus dikembangkan, dikombinasikan dengan pengalaman profesional, dan pada akhirnya digunakan untuk menciptakan solusi serta memberikan dampak bagi masyarakat.
Melalui New Student Gathering ini, mahasiswa baru tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai perjalanan mereka sebagai Binusian, tetapi juga diperkenalkan pada cara berpikir yang relevan dengan dunia kerja masa kini: belajar menggunakan teknologi, mengintegrasikannya ke dalam proses, dan menjadikannya sebagai sarana untuk menciptakan value.
Karena di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, keunggulan bukan hanya terletak pada siapa yang memiliki akses terhadap teknologi, tetapi pada siapa yang mampu menggunakannya secara strategis untuk menghasilkan dampak nyata.
