
Perkuat Leadership dan Communication, BINUS Online Dorong Aktivis HMJ Jadi Pemimpin yang Adaptif

Sabtu, 12 September 2026 – Kemampuan kepemimpinan atau leadership, dan komunikasi atau communication, menjadi dua kompetensi penting yang perlu dimiliki mahasiswa, khususnya bagi mereka yang aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Dalam menjalankan organisasi, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengarahkan anggota, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang efektif, memahami perbedaan dalam tim, menyatukan berbagai perspektif, serta beradaptasi dengan situasi yang terus berubah. Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting agar setiap anggota dapat bergerak bersama dan tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.
Menyadari pentingnya kompetensi tersebut, BINUS Online, melalui unit Student & Career Alumni, menyelenggarakan Future Leadership Program dengan tema “Agile Leadership: Adapting, Communicating, and Leading in Uncertain Times” pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di BINUS @Syahdan. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa, khususnya pengurus HMJ, untuk memperluas wawasan mengenai kepemimpinan yang adaptif sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam menghadapi dinamika organisasi.
Mengapa Organisasi Membutuhkan Agile Leadership?
Dalam lingkungan organisasi mahasiswa, dinamika yang dihadapi tidak selalu dapat diprediksi. Perbedaan karakter, latar belakang, pengalaman, cara bekerja, hingga prioritas masing-masing individu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus HMJ dalam menjalankan program kerja.
Perbedaan tersebut merupakan bagian alami dari sebuah tim. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan dapat memicu kesalahpahaman, menghambat koordinasi, hingga memengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
Karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk embrace differences, atau merangkul perbedaan yang ada di dalam tim. Agile leadership tidak sekadar berbicara mengenai kemampuan mengambil keputusan dengan cepat, tetapi juga tentang bagaimana pemimpin mampu beradaptasi, memahami kondisi tim, membangun kepercayaan, serta menggerakkan anggota menuju tujuan yang sama.
Melalui Future Leadership Program, peserta diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu memiliki semua jawaban. Seorang pemimpin justru perlu terbuka terhadap berbagai perspektif dan mampu menciptakan ruang bagi anggota untuk berkontribusi.

Marcello Burhanuddin: Leadership Dimulai dari Kemampuan Memahami dan Menggerakkan Tim
Sesi mengenai komunikasi dalam Future Leadership Program dibawakan oleh Marcello Burhanuddin, Deputy Director Corporate Communication & PR Archipelago Hotels, sekaligus alumni Business Management BINUS Online.
Dalam materinya mengenai komunikasi, Marcello membagikan perspektif dari pengalaman profesionalnya mengenai bagaimana seorang pemimpin menghadapi berbagai karakter dan dinamika dalam tim. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan posisi atau jabatan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang mampu membangun hubungan, memberikan arah, serta menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks organisasi mahasiswa, perspektif tersebut menjadi relevan bagi para pengurus HMJ. Setiap anggota memiliki latar belakang, kepribadian, pengalaman, dan cara bekerja yang berbeda. Karena itu, pemimpin perlu memahami kekuatan (strengths) sekaligus tantangan (challenges) masing-masing anggota agar dapat membangun kolaborasi yang lebih efektif.
Seorang pemimpin juga perlu menjadi role model bagi tim. Anggota tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan pemimpin, tetapi juga dari bagaimana pemimpin bersikap dan mengambil keputusan dalam menghadapi situasi tertentu.
Andya Pratiwi: Leadership yang Dibangun melalui Komunikasi dan Empati
Sesi berikutnya menghadirkan Andya Pratiwi, Head of Seller Engagement and Commercial Training Lazada, sekaligus alumni Business Management BINUS Online.
Dalam materi leadership, Andya menekankan pentingnya komunikasi dan empati sebagai bagian dari kemampuan seorang pemimpin dalam membangun hubungan yang sehat dengan tim. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan komunikasi dua arah, di mana pemimpin tidak hanya menyampaikan arahan, tetapi juga mampu mendengarkan anggota dan memahami kondisi yang mereka hadapi.
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah empathetic listening, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dengan empati sebelum memberikan penilaian maupun mengambil kesimpulan.
Dalam praktiknya, seorang pemimpin dapat menerapkan beberapa hal sederhana, seperti “listen before judging” dan “ask before making assumptions”. Pemimpin perlu memahami situasi terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian serta memberikan kesempatan kepada anggota untuk menjelaskan perspektifnya.
Komunikasi tersebut juga perlu berlangsung secara dua arah. Dari sisi Leader → Team, pemimpin perlu memberikan ekspektasi yang jelas, memahami kekuatan dan tantangan anggota, serta memberikan dukungan ketika anggota menghadapi kesulitan.
Sementara dari sisi Team → Leader, anggota juga memiliki peran untuk menyampaikan kendala sejak awal, mengambil kepemilikan atas tanggung jawab, serta tidak hanya membawa masalah, tetapi turut menawarkan solusi. Dengan komunikasi dua arah tersebut, anggota akan merasa didengarkan, dihargai, dan menjadi bagian penting dari tim.
Communicate Early: Mencegah Masalah Sebelum Menjadi Krisis
Salah satu prinsip penting dalam komunikasi organisasi yang turut ditekankan dalam program ini adalah “Communicate Early”.
Dalam menjalankan program kerja, berbagai kendala dapat terjadi, mulai dari keterlambatan pekerjaan, kebutuhan bantuan, perubahan rencana, hingga hambatan dalam koordinasi. Ketika masalah tersebut tidak segera dikomunikasikan, dampaknya dapat meluas dan menyulitkan anggota lain untuk mencari solusi.
Karena itu, membangun budaya untuk berkomunikasi sejak awal menjadi bagian penting dari kepemimpinan yang efektif. Dengan menyampaikan kendala secara terbuka dan tepat waktu, tim memiliki ruang yang lebih besar untuk berdiskusi, menyesuaikan rencana, dan mencari solusi bersama.
Prinsip ini juga mendorong terciptanya lingkungan organisasi yang aman untuk menyuarakan keresahan, di mana anggota merasa aman untuk menyampaikan pendapat, ide, maupun kendala tanpa takut langsung dihakimi.
Dari Organisasi untuk Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan
Kehadiran Marcello Burhanuddin dan Andya Pratiwi sebagai alumni BINUS Online memberikan kepada peserta perspektif nyata mengenai penerapan leadership dalam dunia profesional. Pengalaman keduanya menunjukkan bahwa kemampuan memimpin dan berkomunikasi bukan hanya dibutuhkan ketika seseorang telah memasuki dunia kerja, tetapi dapat mulai dibangun melalui pengalaman berorganisasi sejak di bangku kuliah.
Bagi pengurus HMJ, pengalaman menjalankan program kerja, berkoordinasi dengan anggota, menghadapi perbedaan pendapat, hingga menyelesaikan berbagai tantangan organisasi merupakan bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan.
Menjadi pengurus HMJ bukan sekadar menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan memimpin, berkomunikasi, mendengarkan, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan beradaptasi.
Melalui Future Leadership Program, BINUS Online Student & Career Alumni mendorong mahasiswa untuk membawa pengalaman tersebut menjadi bekal dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan, baik dalam organisasi, dunia profesional, maupun masyarakat.
Sebagai penutup program, peserta diajak untuk membawa satu komitmen bersama:
“Communicate clearly. Listen with empathy. Work together.”
Komitmen tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang kemampuan untuk mengarahkan, tetapi juga tentang kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama.
Dengan mengembangkan agile leadership dan komunikasi yang berlandaskan empati, mahasiswa diharapkan dapat tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang mampu menghadapi perubahan, merangkul perbedaan, membangun kolaborasi, serta memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan masyarakat luas.
