Hi BINUSIAN!
Ceritakan satu hal yang paling kamu banggakan dari diri kamu saat ini?”

Sebagian besar dari kita pasti membutuhkan waktu jeda untuk menemukan jawabannya. Ada yang merasa belum memiliki achievement besar, belum menemukan passion diri, atau merasa pencapaian orang lain lebih oke dibandingkan milik kita. Padahal, setiap dalam diri kita memiliki kekuatan unik yang dapat menjadi modal penting untuk berkembang, terutama saat memasuki dunia kerja.

Kita sering kali terlalu fokus pada kekurangan dalam diri sendiri. Saat ditanya tentang kelebihan diri, banyak dari kita justru merasa ragu, bingung, atau bahkan tidak percaya diri untuk menyebutkannya. Padahal, setiap orang memiliki kekuatan dan potensi unik yang berharga dengan caranya masing-masing.

Sebagai mahasiswa, mempersiapkan karier tidak selalu dimulai dari “memperbaiki semua kelemahan” tetapi juga dari bagaimana kita mengenali kekuatan yang sudah dimiliki lalu mengembangkan menjadi potensi yang bisa membawa dampak positif di masa depan. Pendekatan itulah dinamai sebagai strength-based career development.

Strength-Based Career Development

Pendekatan strength-based berangkat dari keyakinan bahwa setiap individu memiliki kekuatan, potensi, dan kemampuan untuk berkembang, bahkan ketika sedang berada dalam situasi yang menyulitkan. Pendekatan ini bukan hanya melihat seseorang dari kekurangan atau tantangannya, melainkan juga dari bagaimana ia mampu bertahan, belajar, dan bangkit dari pengalaman yang dihadapi.[1]

Selaras dengan Hammond (2010), Strength-based approach memiliki beberapa prinsip utama yang berfokus pada pengembangan potensi dan kekuatan individu.[1] Pendekatan ini percaya bahwa setiap orang memiliki keunikan, kemampuan, serta potensi yang dapat membantu mereka berkembang dalam perjalanan hidup maupun karier. Lalu bagaimana agar kita dapat mengetahui kekuatan diri kita?

Pada prosesnya, perubahan tidak hanya datang melalui orang lain tetapi juga dari diri sendiri. Hal  tersebut dapat berawal dari pandangan kita terhadap diri sendiri, memahami dan menghargai kapasitas, hingga menerima keunikan dan perbedaan dalam diri sendiri. Perilaku tersebut secara sedikit demi sedikit membawa diri kita untuk lebih mengenal kekuatan di dalam diri.

Selain proses dengan diri sendiri, kita dapat membangun hubungan yang suportif dan kolaboratif dari rekan-rekan Binusian lainnya seperti berbagai pengalaman bahkan belajar bersama. Maka, penting untuk memiliki sifat yang fleksibel, terbuka dengan perbedaan agar mampu bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan tersebut akan membantu individu untuk lebih mudah beradaptasi dan berkembang, terutama dalam menghadapi dunia profesional yang semakin dinamis dan terus berubah.

Meskipun berfokus pada kekuatan individu, Hammond (2010) menekankan bahwa pendekatan ini tidak dapat berdiri sendiri. Individu tetap perlu memiliki keterampilan resiliensi agar mampu menghadapi tantangan, beradaptasi dengan perubahan, serta terus berkembang dalam perjalanan kariernya. Resiliensi membantu individu untuk tetap optimis, memiliki tujuan yang realistis, dan mampu memanfaatkan kekuatan diri dalam menghadapi berbagai situasi. Dengan adanya keterampilan resiliensi, individu tidak hanya mampu bertahan dalam tekanan, tetapi juga dapat berkembang dan mengoptimalkan potensi dirinya secara lebih positif.

Strength-Based untuk Karier Gemilang

Pendekatan strength-based juga banyak digunakan oleh profesional karier untuk membantu mahasiswa mengenali dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki.

Pendekatan ini dipilih karena dapat menumbuhkan rasa optimis, meningkatkan kepercayaan diri, serta membantu mahasiswa lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan di dunia kerja.[1] Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu melalui workshop, seminar, atau pelatihan mengenai pengembangan kekuatan akademik yang dilaksanakan secara berkala. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami potensi diri, mengenali kekuatan yang dimiliki, serta belajar mengembangkan kemampuan yang masih perlu ditingkatkan. Selain itu, kegiatan ini juga membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi transisi dari dunia perkuliahan menuju dunia kerja melalui pengalaman belajar yang interaktif, menyenangkan, dan relevan dengan situasi nyata di lingkungan profesional.

Pada kesimpulannya, pendekatan strengths-based merupakan pendekatan yang berfokus pada apa yang baik dan kuat dalam diri seseorang dibandingkan melihat pada sisi kelemahan dan tantangan yang dimiliki. Pendekatan ini menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi, kemampuan, dan sumber daya yang dapat dikembangkan untuk menghadapi tantangan hidup.

“One cannot build on weakness. To achieve results, one has to use all the available strengths…  These strengths are the true opportunities.” — Peter Drucker

Referensi

  • Stoerkel, E. (2019). What Is a Strength-Based Approach? (Incl. Examples & Tools). Diakses pada 18 Mei 2026 pukul 17:25 WIB. What is a Strength-Based Approach? (Incl. Examples & Tools)
  • Hammond, W. (2010). Principles of Strength-Based Practice. Resiliency Initiatives. Diakses pada 19 Mei 2026. https://www.cycaa.com/wp-content/uploads/2020/07/PrinciplesOfStrength-BasedPractice.pdf
  • Saville, K. M., Birdi, G., Hayes, S., Higson, H., & Eperjesi, F. (2020). Using strength-based approaches to fulfil academic potential in degree apprenticeships. Higher Education, Skills and Work-Based Learning10(4), 659-671.