BINUS University Online kembali menghadirkan sesi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja melalui pembahasan bertajuk “How to Stand Out at Work”. Kegiatan ini menghadirkan Bobby Alfrtis Wenas, S.M., seorang Human Capital Business Partner Manager dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang Human Resources, sebagai narasumber. Sesi tersebut membahas bagaimana individu dapat membangun nilai, meningkatkan kontribusi, dan mempersiapkan diri untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar di lingkungan kerja.

Dalam materi yang disampaikan, Bobby menekankan bahwa bekerja keras merupakan fondasi penting, tetapi belum tentu cukup untuk membuat seseorang dipandang siap menerima tanggung jawab yang lebih besar. Karyawan tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga berdasarkan kemampuan menciptakan dampak, mengambil ownership, menyelesaikan masalah, serta membangun kepercayaan. Konsep tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam sesi “How to Stand Out at Work”.

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah perbedaan antara sekadar menyelesaikan task dan menciptakan impact. Dalam materi, peserta diajak untuk tidak berhenti pada pola pikir “saya sudah mengerjakan tugas saya”, tetapi mulai mengembangkan pertanyaan yang lebih strategis, yaitu “apa yang menjadi lebih baik karena pekerjaan saya?”. Pergeseran dari task mindset menuju ownership mindset menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan seseorang untuk berkembang dalam karier.

Materi juga menekankan pentingnya reliability, ownership, dan independence ketika menghadapi situasi sulit. Individu yang mampu menjadi pihak yang dapat diandalkan, memiliki rasa tanggung jawab terhadap masalah, serta mampu bergerak tanpa selalu menunggu instruksi dipandang lebih siap untuk mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada pentingnya membangun visibility secara sehat. Visibility bukan berarti mencari perhatian atau “cari muka”, melainkan memastikan kontribusi dan dampak pekerjaan dapat dipahami oleh orang lain. Materi tersebut merangkum pendekatan sederhana melalui tiga langkah, yaitu do, document, dan communicate. Dengan demikian, kontribusi yang telah dilakukan tidak hanya menghasilkan pekerjaan, tetapi juga menjadi bukti nyata atas nilai yang diberikan kepada organisasi.

Dalam sesi tersebut, peserta juga mendapatkan perspektif mengenai pengembangan karier yang tidak harus selalu menunggu pelatihan formal. Pertumbuhan dapat dibangun melalui rasa ingin tahu, pembelajaran dari orang lain, keterlibatan dalam project, refleksi terhadap kesalahan, serta pemanfaatan feedback. Prinsip “growth is a choice” menjadi pesan yang menegaskan bahwa pengembangan diri merupakan tanggung jawab individu, bukan semata-mata tanggung jawab organisasi.

Diskusi berlangsung semakin menarik ketika peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan dan mengaitkan materi dengan tantangan yang mereka hadapi di dunia kerja.

Jessiana mengangkat pertanyaan mengenai bagaimana Generasi Z dapat memimpin bawahan yang memiliki usia lebih senior. Pertanyaan ini menunjukkan adanya tantangan lintas generasi yang semakin relevan dalam organisasi modern. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan usia atau masa kerja, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan, berkomunikasi secara jelas, menunjukkan kompetensi, dan menghargai pengalaman anggota tim.

Sementara itu, Yakkum menyoroti isu promosi jabatan yang dilakukan dengan unsur nepotisme. Pertanyaan ini membawa diskusi pada pentingnya profesionalisme, fairness, serta kredibilitas dalam proses pengembangan karier. Isu tersebut menjadi semakin penting karena persepsi terhadap keadilan organisasi dapat memengaruhi kepercayaan dan motivasi individu di lingkungan kerja.

Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Ery Pradyta yang menanyakan bagaimana cara seseorang terlihat stand out ketika belum banyak mendapatkan mandat atau tanggung jawab. Pertanyaan tersebut sangat selaras dengan materi yang disampaikan oleh Bobby, khususnya mengenai ownership, impact, visibility, dan kesiapan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar. Dalam konteks ini, seseorang tidak harus menunggu diberikan kesempatan untuk menunjukkan value, tetapi dapat mulai menciptakan kontribusi melalui inisiatif, penyelesaian masalah, dokumentasi hasil kerja, serta komunikasi yang mampu menunjukkan dampak dari kontribusinya.

Sesi ini dimoderatori oleh Baghas Budi Wicaksono, S.Pd., M.E., M.M., Faculty Member Business Management BINUS University Online. Dengan latar belakang akademik di bidang ekonomi dan manajemen serta pengalaman di lingkungan pendidikan tinggi, moderator mengarahkan jalannya diskusi agar pembahasan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada persoalan praktis yang dihadapi generasi muda di dunia kerja.

Melalui sesi “How to Stand Out at Work”, peserta diajak memahami bahwa menjadi standout bukan berarti menjadi orang yang paling banyak bicara atau paling terlihat di dalam ruangan. Menjadi standout justru berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan baik, menciptakan impact, membangun trust, terus belajar, serta menunjukkan kesiapan untuk mengambil tanggung jawab berikutnya. Materi menutup pesan tersebut dengan gagasan bahwa seseorang tidak perlu menunggu kesempatan berikutnya, tetapi dapat mulai menjadi pribadi yang siap ketika kesempatan itu datang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BINUS University Online dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membangun kemampuan akademik, tetapi juga mempersiapkan peserta untuk menghadapi dinamika profesional secara lebih percaya diri, adaptif, dan berorientasi pada dampak. Di tengah dunia kerja yang semakin dinamis dan multigenerasi, kemampuan untuk membangun ownership, komunikasi, adaptability, dan growth mindset menjadi modal penting untuk berkembang secara berkelanjutan.