Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda melihat dunia, termasuk dalam memandang peluang bisnis. Bagi Gen Z, teknologi bukan lagi sekadar sarana untuk berkomunikasi, mencari informasi, atau menikmati hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang membuka ruang baru untuk berkreasi, membangun personal brand, menemukan kebutuhan pasar, hingga menciptakan bisnis. Di tengah perubahan yang begitu cepat, kemampuan untuk berpikir digital menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda yang ingin mengambil bagian dalam ekonomi masa depan.

Semangat tersebut hadir dalam kegiatan “Gen Z Goes Techpreneur” yang diselenggarakan oleh BINUS University Online pada 29 Agustus 2026 di BINUS @Medan, Delipark Mall, L Floor. Mengusung tema “Think Digital. Build Business. Create Impact.”, kegiatan ini menjadi ruang inspirasi bagi generasi muda untuk melihat teknologi dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya sebagai sesuatu yang digunakan, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan nilai dan membangun peluang.

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Rini Kurnia Sari, S.E., M.E., Head of Digital Business Management Program BINUS Online, sebagai guest speaker. Kehadiran beliau memberikan perspektif bahwa dunia bisnis saat ini membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan konsumen, kreativitas, strategi bisnis, dan kemampuan membaca perubahan pasar.

Menjadi bagian dari Gen Z berarti hidup di tengah ekosistem yang sangat dinamis. Tren dapat berubah dalam hitungan hari, perilaku konsumen dapat bergeser dalam waktu singkat, dan sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi bisnis dengan jangkauan yang luas hanya melalui platform digital. Kondisi ini membuat peluang kewirausahaan semakin terbuka. Siapa pun dapat memulai, bereksperimen, membangun audiens, menguji produk, dan mendapatkan respons pasar tanpa harus selalu memiliki sumber daya sebesar bisnis konvensional. Namun, menjadi techpreneur bukan sekadar mampu menggunakan media sosial, marketplace, artificial intelligence, atau berbagai platform digital. Lebih jauh, techpreneur adalah tentang cara berpikir. Teknologi harus mampu digunakan untuk menemukan masalah, memahami kebutuhan, menciptakan solusi, meningkatkan pengalaman pelanggan, serta membangun proses bisnis yang lebih efektif dan adaptif. Dengan pola pikir tersebut, teknologi tidak berhenti sebagai alat, tetapi menjadi bagian dari strategi dalam menciptakan keunggulan bisnis.

Di sinilah kreativitas Gen Z menjadi sangat relevan. Generasi ini memiliki kedekatan yang kuat dengan budaya digital, terbiasa mengonsumsi dan menciptakan konten, cepat menangkap tren, serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan platform baru. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan ketika diarahkan ke aktivitas produktif dan kewirausahaan. Sebuah tren dapat menjadi insight, sebuah keluhan dapat menjadi ide bisnis, dan sebuah masalah sederhana dapat berkembang menjadi peluang untuk menciptakan solusi yang bernilai. Meski demikian, membangun bisnis di era digital bukan hanya tentang mengejar sesuatu yang viral. Viral mungkin dapat menghadirkan perhatian, tetapi bisnis yang berkelanjutan membutuhkan nilai, kepercayaan, dan relevansi. Sebuah produk harus mampu menjawab kebutuhan nyata. Sebuah brand harus mampu membangun hubungan dengan konsumennya. Dan sebuah bisnis harus memiliki alasan yang kuat untuk terus dipilih, bahkan ketika tren telah berganti.

Karena itu, generasi muda perlu mulai menggeser cara pandang dari sekadar bertanya “Bagaimana agar produk saya viral?” menjadi “Masalah apa yang dapat saya selesaikan?”, “Siapa yang membutuhkan solusi ini?”, dan “Bagaimana teknologi dapat membuat solusi tersebut menjadi lebih baik?”. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun bisnis yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memiliki manfaat dan daya tahan. Kegiatan “Gen Z Goes Techpreneur” juga menjadi momentum untuk mempertemukan ide, wawasan, dan networking. Kehadiran peserta dalam satu ruang memberikan kesempatan untuk saling bertukar perspektif, menemukan inspirasi baru, dan membuka peluang kolaborasi. Dalam ekosistem kewirausahaan modern, kolaborasi sering kali menjadi faktor penting karena ide yang kuat dapat berkembang lebih cepat ketika bertemu dengan orang yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Semangat yang dibawa melalui “Think Digital. Build Business. Create Impact.” pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana generasi muda menciptakan bisnis, tetapi juga bagaimana mereka menciptakan dampak. Bisnis yang baik tidak hanya berbicara mengenai keuntungan, tetapi juga tentang solusi, pemberdayaan, inovasi, kesempatan kerja, pengembangan komunitas, dan kontribusi terhadap masyarakat. Teknologi memberikan skalanya, kreativitas memberikan bentuknya, sementara keberanian untuk mengeksekusi menjadi penggeraknya.

Gen Z tidak harus menunggu sampai memiliki modal besar, kantor besar, atau tim yang besar untuk mulai berwirausaha. Di era digital, sebuah ide dapat dimulai dari smartphone, laptop, koneksi internet, dan keberanian untuk mencoba. Yang terpenting bukan seberapa besar langkah pertama yang diambil, melainkan seberapa konsisten seseorang belajar dari proses tersebut dan terus mengembangkan idenya menjadi sesuatu yang bernilai.

“Gen Z Goes Techpreneur” menjadi pengingat bahwa generasi yang tumbuh bersama teknologi memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian dari perubahan ekonomi dan bisnis masa depan. Mereka tidak harus berhenti sebagai pengguna teknologi atau sekadar mengikuti tren yang muncul di layar. Mereka dapat menjadi pencipta tren, pembangun bisnis, inovator, dan pencipta dampak. Dari sebuah ide kecil, sebuah masalah sederhana, atau bahkan percakapan singkat, perjalanan menjadi techpreneur dapat dimulai. Karena masa depan bisnis tidak hanya menunggu untuk ditemukan. Masa depan bisnis sedang dibangun oleh mereka yang berani melihat peluang, berani mencoba, berani berinovasi, dan berani menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan bagi Gen Z, mungkin inilah saatnya berhenti hanya menjadi penonton di era digital dan mulai mengambil peran sebagai pemain utama.