Merawat Warna, Menjaga Masa Depan: BINUS Online Management Mendorong Transformasi Green Batik Pekalongan
Proyek Inisiatif 2026 “Menuju Industri Batik Berkelanjutan: Business Plan Green Batik” mendampingi UMKM batik Pekalongan menyusun rencana bisnis, memperkuat produksi berkelanjutan, dan memanfaatkan transformasi digital serta kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
Pekalongan dikenal sebagai salah satu jantung batik Indonesia. Di kota ini, motif dan warna bukan sekadar hasil kerajinan, melainkan bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik setiap lembar kain, ada tangan yang telah lama akrab dengan canting, malam, dan kesabaran menunggu warna meresap sempurna.

Namun, dunia yang mengelilingi batik kini bergerak lebih cepat. Batik tidak lagi hanya dituntut memiliki motif yang indah. Pasar mulai bertanya lebih jauh: dari apa kain ini diwarnai, bagaimana limbah produksinya dikelola, seperti apa produk ini dipasarkan, dan apakah usaha di baliknya mampu bertahan dalam jangka panjang. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak lahirnya Green Batik Initiative, sebuah upaya pendampingan yang dijalankan melalui Proyek Inisiatif 2026 bertajuk “Menuju Industri Batik Berkelanjutan: Business Plan Green Batik”.
Proyek ini digawangi oleh Bapak Christopher Joshua Leksana sebagai ketua, dengan Ibu Hartiwi Prabowo sebagai supervisor, serta Profesor Ngatindriatun dan Ibu Teguh Sriwidadi sebagai anggota tim. Berlokasi di Pekalongan, Jawa Tengah, inisiatif ini masuk dalam kategori pengembangan non-tuition revenue melalui penyusunan business plan, riset pasar, pengembangan lini bisnis baru, hingga ekspansi pasar komersial yang selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Tantangan yang Tak Sederhana
Di balik keindahan motif dan cerita panjang tentang tradisi, pelaku UMKM batik di Pekalongan menghadapi persoalan yang tidak ringan. Persaingan pasar semakin ketat, sementara akses ke pasar internasional masih terbatas. Penggunaan bahan dan pewarna, ditambah pengelolaan limbah yang belum optimal, menjadi sorotan di tengah tuntutan konsumen global terhadap produk yang lebih ramah lingkungan.
Belum lagi keterbatasan teknologi dan informasi, minimnya keterampilan menyusun rencana bisnis yang matang, serta tantangan memasarkan produk secara digital. Standar dan sertifikasi lingkungan yang kian menjadi syarat di pasar ekspor turut menambah kompleksitas yang harus dihadapi para pengrajin.
Semua tantangan ini bukan kekurangan yang melekat pada pengrajin, melainkan bagian dari proses transformasi besar yang tengah dialami industri batik secara keseluruhan. Yang dibutuhkan bukan kritik, melainkan dukungan pengetahuan, teknologi yang tepat guna, akses pasar yang lebih luas, dan penguatan kapasitas yang berkelanjutan. Di titik inilah kehadiran universitas menemukan relevansinya.
Workshop Green Batik
Pada Minggu, 26 April 2026, pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, Werna Studio Batik di Pekalongan menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman praktis pengrajin. Di sanalah digelar workshop “Menuju Industri Batik Berkelanjutan: Business Plan Green Batik”, diikuti oleh dua belas peserta, termasuk tim Proyek Inisiatif Green Batik.

Gambar 1. Flyer Workshop di Werna Studio Batik
Ibu Mila, pengrajin batik dari Werna Studio yang telah berpengalaman menggunakan pewarna alami, hadir sebagai narasumber. Melalui sesi ini, peserta diajak memahami konsep industri batik berkelanjutan, mengasah kemampuan menyusun business plan berbasis prinsip Green Batik, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bahan produksi yang lebih ramah lingkungan.
Workshop ini bukan sekadar forum penyampaian materi satu arah. Ia menjadi ruang dialog, tempat teori tentang keberlanjutan bertemu dengan pengalaman nyata di lapangan tentang bagaimana warna sesungguhnya lahir dari proses yang panjang dan penuh ketelitian.
Belajar dari Warna yang Bernapas
Salah satu bagian paling berkesan dari rangkaian kegiatan ini adalah praktik langsung membatik dengan pewarna alami di Werna Studio. Peserta menggunakan peralatan yang akrab dengan dunia batik tradisional: canting, kompor, wajan kecil untuk melelehkan malam, alat tulis, hingga ember atau wadah untuk proses pencelupan. Bahan yang digunakan pun sederhana namun sarat makna, meliputi kertas, kain, malam atau lilin batik, pewarna alami indigo, gula jawa sebagai bahan pendukung proses pewarnaan, serta larutan pendukung seperti TRO dan soda ash.
Gambar 2. Praktik Peserta workshop “Menuju Industri Batik Berkelanjutan: Business Plan Green Batik di Werna Studio Batik, Pekalongan, Minggu (26/4/2026).
Pewarna utama yang digunakan dalam praktik ini adalah indigo, yang berasal dari tanaman Indigofera tinctoria. Warna biru yang dihasilkan indigo memiliki karakter gradasi yang khas, hasil dari proses oksidasi yang terjadi ketika kain yang telah dicelup terkena udara terbuka. Warna itu seolah “bernapas”, muncul perlahan seiring kain bersentuhan dengan oksigen.
![]() |
![]() |
Gambar 3. Antusiasme Peserta workshop di Werna Studio Batik, Pekalongan, Minggu (26/4/2026).
Pewarna alami sendiri berasal dari beragam sumber di alam, mulai dari pigmen tumbuhan, kayu, daun, hingga akar. Namun proses indigo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pewarna alami lain. Pigmennya perlu dibuat larut terlebih dahulu melalui proses fermentasi dalam kondisi basa, sebelum akhirnya warna berkembang secara sempurna melalui oksidasi saat kain terkena udara. Detail teknis dan takaran bahan yang lebih spesifik disampaikan langsung oleh narasumber dalam sesi praktik, sebagai pengetahuan yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun menekuni pewarna alami.
Dari Selembar Kain ke Sebuah Model Bisnis
Namun demikian, proyek ini tidak berhenti pada penguasaan teknik produksi yang ramah lingkungan. Peserta juga diajak berpikir lebih jauh: siapa yang akan membeli produk ini, nilai apa yang ditawarkan kepada konsumen, bagaimana produk akan dipasarkan, berapa biaya yang dibutuhkan untuk memproduksinya, dan yang tidak kalah penting, bagaimana usaha tersebut dapat terus bertahan di tengah perubahan pasar.
![]() |
![]() |
![]() |
Gambar 4. Pemaparan narasumber di Werna Studio Batik, Pekalongan, Minggu (26/4/2026).
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk pada penyusunan business plan yang komprehensif, mencakup analisis pasar, segmentasi konsumen, strategi pemasaran hijau, proyeksi keuangan, hingga aspek keberlanjutan usaha. Peluang pasar ekspor, konsumen yang peduli lingkungan, dan pelanggan korporasi turut menjadi bagian dari peta pasar yang dipetakan bersama, beriringan dengan pengembangan produk, penentuan model pendapatan, dan penataan struktur biaya. Business plan ini dibangun dengan gagasan bahwa Green Batik semestinya memiliki nilai lingkungan sekaligus nilai ekonomi yang saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Dari perhitungan business plan yang dikembangkan dalam proyek ini, hasil analisis kelayakan menunjukkan prospek yang menjanjikan, dengan Net Present Value (NPV) yang positif, estimasi Return on Investment (ROI) sekitar 150 persen dalam kurun waktu satu tahun, serta Break-Even Point (BEP) yang relatif rendah. Angka-angka ini merupakan hasil proyeksi dari model bisnis yang disusun dalam proyek, bukan gambaran yang berlaku merata bagi seluruh pelaku UMKM batik. Ia adalah peta arah, bukan jaminan hasil yang seragam bagi setiap usaha.
Dukungan yang Membumi
Proyek ini melanjutkan langkahnya dengan memberikan dukungan alat dan bahan produksi kepada UMKM dan pengrajin batik di Pekalongan. Dukungan tersebut antara lain berupa pasta indigo, canting, malam, kain, serta sejumlah alat dan bahan pendukung lainnya.
![]() |
![]() |
Gambar 5 Tim Proyek Inisiatif Green Batik menyerahkan dukungan alat dan bahan produksi, termasuk pasta indigo, canting, malam, dan kain, kepada pengrajin batik Pekalongan.
Pilihan atas jenis dukungan ini bukan tanpa pertimbangan. Tim proyek memperhitungkan karakter khas produksi batik tulis dan kebutuhan riil yang dihadapi pengrajin sehari-hari. Alih-alih mendorong investasi pada mesin otomatis berbiaya tinggi yang belum tentu sesuai dengan skala dan proses produksi mereka, proyek memilih menghadirkan peralatan tradisional dan bahan produksi yang dapat langsung digunakan untuk mendukung aktivitas membatik.
Pilihan ini berangkat dari sebuah prinsip sederhana namun penting: teknologi yang tepat bukan selalu teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan konteks penggunanya. Prinsip ini sekaligus menjadi cara untuk menjaga keterampilan tradisional tetap hidup, dengan pengrajin yang tetap berada di pusat proses kreatif dan produksi, bukan tergeser oleh mesin yang mengambil alih peran tangan mereka.
Bercerita di Ruang Digital
![]() |
Gambar 6. Pelatihan Digital Konten Green Batik oleh Pak Christopher Joshua Leksana.
Pada Minggu 21 Juni 2026, rangkaian kegiatan berlanjut melalui “Digital Content for Green Batik”, sebuah upaya membekali pengrajin dengan kemampuan bercerita di ruang digital. Materi yang diberikan oleh Bapak Christopher Joshua Leksana mencakup pembuatan konten, pencitraan merek secara digital, strategi pemasaran melalui media sosial, cara membangun keterlibatan audiens, hingga pemanfaatan Instagram Insights dan Google Analytics untuk mengevaluasi efektivitas kampanye pemasaran.
Kemampuan menghasilkan produk yang baik ternyata perlu diikuti dengan kemampuan menceritakan nilai produk tersebut kepada konsumen. Produk Green Batik memiliki banyak hal untuk diceritakan, mulai dari bahan yang digunakan, proses pewarnaan yang penuh kesabaran, sosok pengrajin di baliknya, hingga nilai budaya dan komitmen keberlanjutan yang menyertainya. Transformasi digital, dengan demikian, menjadi jembatan yang menghubungkan pengrajin di studio kecil Pekalongan dengan konsumen di pasar yang jauh lebih luas.
Kecerdasan Buatan, dengan Tanggung Jawab
Kegiatan “AI for Green Batik” menjadi bagian lain yang tidak kalah menarik dari rangkaian proyek ini. Kecerdasan buatan diperkenalkan sebagai alat bantu dalam eksplorasi konsep desain, eksplorasi warna, penyusunan prompt kreatif, pengembangan ide, inovasi produk, hingga pengembangan konten pemasaran.
Gambar 7. Pelatihan AI for Green Batik
Namun, pengenalan AI oleh Pak Andrianto dalam proyek ini tidak dilepaskan dari kesadaran akan tanggung jawab yang menyertainya. Diskusi turut menyentuh soal etika, hak kekayaan intelektual, keaslian karya, pentingnya verifikasi terhadap hasil yang dihasilkan AI, pelestarian budaya, serta tanggung jawab manusia dalam setiap keputusan kreatif. Kecerdasan buatan dapat membantu memperluas ruang kreativitas, tetapi ia tidak boleh menghapus peran manusia sebagai pencipta dan penjaga warisan budaya. AI hadir sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti tangan dan rasa yang selama ini menjadi jiwa dari setiap lembar batik.
Bukan Tradisi Lawan Teknologi
Salah satu gagasan paling penting yang mengemuka dari proyek ini adalah bahwa perdebatan sesungguhnya bukan terletak antara tradisi dan teknologi. Pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat tradisi, bukan menggantikannya.
Batik tetap dapat mempertahankan keterampilan tangan, identitas budaya, nilai artistik, dan keunikan pengrajin yang menjadi ciri khasnya selama ini. Pada saat yang sama, batik juga dapat mengadopsi business planning yang lebih terstruktur, pemasaran digital yang lebih terukur, analisis pasar yang lebih tajam, teknologi AI yang digunakan secara bertanggung jawab, serta semangat inovasi produk yang terus diperbarui. Dua hal ini, tradisi dan teknologi, tidak saling meniadakan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan, saling menopang satu sama lain.
Menjawab Panggilan SDGs
Green Batik Initiative memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah target dalam Sustainable Development Goals. Pada SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, proyek ini hadir melalui penguatan kapasitas UMKM, pendampingan perencanaan bisnis, serta pembukaan potensi perluasan pasar bagi pengrajin.
Pada SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, kontribusinya terlihat dari inovasi model bisnis, pemanfaatan teknologi digital, penggunaan AI, serta pilihan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan riil UMKM batik. Sementara itu, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab tercermin dari pengenalan proses produksi yang lebih memperhatikan pemilihan bahan, penggunaan pewarna alami, dan pengelolaan sumber daya secara lebih bijak.
Proyek ini juga bersinggungan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, terutama melalui peningkatan kesadaran dan kapasitas pengrajin untuk menerapkan praktik usaha yang lebih berkelanjutan, meski klaim kuantitatif mengenai pengurangan emisi belum dapat disampaikan tanpa data pengukuran yang memadai. Terakhir, SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan hadir nyata dalam kolaborasi yang terjalin antara universitas, akademisi, pengrajin, UMKM, komunitas, praktisi, hingga pemerintah dan pihak industri. Proses pembelajaran dan transfer pengetahuan yang berlangsung sepanjang proyek turut memberi ruang bagi relevansi dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Bion Management sebagai Penghubung, Bukan Sekadar Penyelenggara
Kehadiran Binus Online Management dalam proyek ini tidak sebatas sebagai penyelenggara workshop atau pemberi bantuan alat dan bahan. Lebih dari itu, universitas berperan sebagai pusat pengetahuan, mitra inovasi, penghubung antar pemangku kepentingan, sekaligus katalisator perubahan bagi UMKM batik Pekalongan.
Pengetahuan akademik yang dimiliki para dosen dan peneliti tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah. Ia diterjemahkan menjadi keterampilan praktis bagi pengrajin, mendorong lahirnya inovasi dalam proses dan pemasaran, membuka jalan bagi pengembangan usaha, memperluas peluang pasar, hingga pada akhirnya memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Dalam kerangka pengembangan non-tuition revenue, proyek ini menunjukkan bahwa upaya universitas membangun sumber pendapatan di luar dana pendidikan dapat berjalan seiring dengan penciptaan dampak sosial yang bermakna. Riset pasar, pengembangan produk, pengembangan lini bisnis baru, ekspansi pasar, hingga kemitraan dengan industri dan komunitas menjadi bukti bahwa kehadiran akademik dan kepentingan masyarakat tidak harus berjalan pada jalur yang berbeda.
Pengrajin, Penjaga Budaya yang Terus Beradaptasi
Di tengah seluruh rangkaian kegiatan ini, pengrajin batik tetap menjadi aktor utama. Mereka bukan sekadar pihak yang menerima bantuan, melainkan penjaga budaya sekaligus pelaku ekonomi yang dituntut untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Dukungan yang diberikan universitas ditujukan untuk memperkuat kapasitas mereka, bukan untuk menggantikan peran yang selama ini mereka jalankan dengan penuh dedikasi.
Setiap sesi workshop, setiap alat dan bahan yang diserahkan, setiap materi tentang pemasaran digital dan kecerdasan buatan, pada akhirnya kembali kepada satu tujuan: memastikan pengrajin memiliki lebih banyak pilihan dan lebih banyak kekuatan untuk menentukan arah usaha mereka sendiri di masa depan.
Dari Kegiatan Menuju Dampak
Jika dirangkum secara sederhana, rangkaian kegiatan dalam proyek ini, mulai dari workshop, praktik pewarna alami, penyusunan business plan, dukungan alat dan bahan, hingga pelatihan digital dan AI, telah menghasilkan sejumlah keluaran nyata. Peningkatan pengetahuan, tersusunnya business plan, bertambahnya keterampilan produksi yang lebih ramah lingkungan, kemampuan digital yang lebih baik, serta pemahaman tentang pemanfaatan AI menjadi capaian yang dapat dilihat sejauh ini.
Sebagai hasil awal, terlihat meningkatnya kesiapan peserta untuk mengembangkan usaha yang berorientasi pada keberlanjutan, sekaligus memperluas kemampuan mereka dalam pemasaran dan inovasi produk. Adapun dampak yang diharapkan dari keseluruhan proses ini bersifat jangka lebih panjang, meliputi UMKM batik yang lebih tangguh, daya saing yang meningkat, akses pasar yang lebih luas, penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, serta tumbuhnya ekosistem Green Batik di Pekalongan. Penting untuk membedakan dengan jelas antara apa yang telah dicapai hingga September 2026 dan apa yang masih menjadi harapan ke depan, agar proyek ini dapat dinilai secara jujur dan proporsional.
Batik yang Tetap Batik, dalam Wajah yang Baru
Masa depan batik tidak hanya bergantung pada kemampuan mempertahankan motif dan teknik yang telah diwariskan turun-temurun. Ia juga bergantung pada kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pasar, tuntutan keberlanjutan, kehadiran teknologi digital dan kecerdasan buatan, serta kebutuhan konsumen global yang terus berkembang.
Batik tidak perlu meninggalkan tradisi untuk menjadi modern. Sebaliknya, teknologi dan inovasi dapat digunakan untuk memastikan tradisi tetap hidup, bernilai ekonomi, dan relevan bagi generasi berikutnya. Green Batik Initiative, dengan segala rangkaian kegiatannya sejak April hingga September 2026, diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju ekosistem Green Batik Pekalongan yang menghubungkan budaya lokal, lingkungan, UMKM, universitas, teknologi, pasar global, dan agenda pembangunan berkelanjutan dunia dalam satu rangkaian yang saling menguatkan.
#BINUSOnlineManagement #BINUS #GreenBatikInitiative #BatikPekalongan #BatikIndonesia #UMKMBatik #IndustriBerkelanjutan #BisnisBerkelanjutan #TransformasiDigital #ArtificialIntelligence #SDGs #SDG8 #SDG12 #PemberdayaanUMKM #PelestarianBudaya
Referensi :
- Badan Pusat Statistik. (2025). Profil industri mikro dan kecil 2024. Badan Pusat Statistik. BPS – Profil Industri Mikro dan Kecil 2024
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2022, May 20). Pengembangan UMKM menjadi necessary condition untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kemenko Perekonomian
- United Nations Conference on Trade and Development. (2026). Indonesia: eTrade readiness assessment. UN Trade and Development. UNCTAD – Indonesia eTrade Readiness Assessment
- United Nations Department of Economic and Social Affairs. (n.d.-a). Goal 8: Decent work and economic growth. Sustainable Development Goals. UN SDG 8
- United Nations Department of Economic and Social Affairs. (n.d.-b). Goal 9: Industry, innovation and infrastructure. Sustainable Development Goals. UN SDG 9
- United Nations Department of Economic and Social Affairs. (n.d.-c). Goal 12: Responsible consumption and production. Sustainable Development Goals. UN SDG 12
- United Nations Department of Economic and Social Affairs. (n.d.-d). Goal 13: Climate action. Sustainable Development Goals. UN SDG 13
- United Nations Department of Economic and Social Affairs. (n.d.-e). Goal 17: Partnerships for the goals. Sustainable Development Goals. UN SDG 17
- UNESCO. (2009). Indonesian batik. UNESCO Intangible Cultural Heritage. UNESCO – Indonesian Batik
- UNESCO. (n.d.). Pekalongan. UNESCO Creative Cities Network. UNESCO – Pekalongan
- UNESCO. (2021). Recommendation on the ethics of artificial intelligence. UNESCO. UNESCO – Ethics of AI
- UNESCO. (2026, March 18). AI and culture. UNESCO. UNESCO – AI and Culture
- World Intellectual Property Organization. (2024). Generative AI: Navigating intellectual property. WIPO. WIPO – Generative AI and Intellectual Property








Comments :