Jakarta, 1 Juli 2026 – BINUS Online Learning and Development (BOLD Series) kembali menghadirkan National Talks yang mengangkat isu kepemimpinan modern melalui webinar bertajuk “Inclusive Leadership: Managing Diverse Talent in a Dynamic Business Environment”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 1 Juli 2026 pukul 13.00–15.00 WIB ini menghadirkan Associate Professor in Managerial Diversity dari School of Business and Management (SBM) Institut Teknologi Bandung, Andika Putra Pratama, Ph.D., sebagai pembicara utama. Webinar dimoderatori oleh Dr. The Elisabeth Cintya Santosa, S.E., M.Si., Faculty Member BINUS Online Business Management Department, dan diikuti oleh mahasiswa BINUS Online dari berbagai program studi.

Dalam pemaparannya, Dr. Andika menjelaskan bahwa organisasi saat ini menghadapi lingkungan bisnis yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Perubahan teknologi yang sangat cepat, meningkatnya ekspektasi pelanggan, globalisasi, pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, hingga kebutuhan organisasi untuk tetap agile menjadikan keberagaman sumber daya manusia sebagai tantangan sekaligus peluang strategis. Menurutnya, kompleksitas tersebut tidak dapat dihadapi hanya dengan kemampuan teknis, tetapi membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengelola perbedaan karakter, budaya, nilai, serta cara berpikir individu dalam organisasi.

Dr. Andika menegaskan bahwa inclusive leadership bukan sekadar menerima keberagaman, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang membuat setiap individu merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Mengacu pada kajian Korkmaz et al. (2022), beliau menjelaskan empat dimensi utama kepemimpinan inklusif, yaitu fostering employee uniqueness, strengthening belongingness within a team, showing appreciation, dan supporting organizational efforts toward inclusion. Keempat dimensi tersebut saling melengkapi dalam membangun organisasi yang tidak hanya beragam, tetapi juga produktif dan inovatif.

Materi juga mengupas bagaimana keberagaman manusia dapat dipahami dari berbagai perspektif, mulai dari kepribadian, nilai (values), budaya, hingga identitas budaya. Salah satu pembahasan menarik adalah Schwartz Value Theory yang menjelaskan bahwa setiap individu memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan berperilaku. Oleh karena itu, konflik dalam organisasi sering kali bukan disebabkan oleh buruknya komunikasi semata, tetapi karena adanya perbedaan sistem nilai yang dianut masing-masing individu.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan berbagai model budaya yang banyak digunakan dalam studi manajemen lintas budaya, seperti Hofstede’s Cultural Dimensions, Lewis Model of Culture, hingga GLOBE Leadership Study. Melalui berbagai model tersebut, Dr. Andika menunjukkan bahwa gaya komunikasi, cara mengambil keputusan, hingga preferensi bekerja setiap individu dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Pemimpin yang efektif bukanlah mereka yang memaksakan satu gaya kepemimpinan, melainkan yang mampu menyesuaikan pendekatan sesuai karakteristik anggota tim.

Salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai perspektif keberagaman dalam organisasi berdasarkan Ely dan Thomas (2001). Dr. Andika menjelaskan bahwa organisasi akan memperoleh manfaat terbesar dari keberagaman apabila menerapkan integration-and-learning perspective, yaitu memanfaatkan perbedaan pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang anggota tim sebagai sumber pembelajaran dan inovasi, bukan sekadar memenuhi target representasi keberagaman.

Antusiasme Mahasiswa dalam Sesi Diskusi

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang mengangkat tantangan kepemimpinan di dunia kerja saat ini.

 

Klariin Kintany menanyakan bagaimana seorang pemimpin menghadapi anggota tim yang memiliki hubungan baik dengan pimpinan, tetapi kontribusinya terhadap pekerjaan relatif rendah, terlebih ketika bekerja secara remote. Menanggapi hal tersebut, Dr. Andika menjelaskan bahwa pemimpin perlu memisahkan hubungan personal dengan evaluasi kinerja. Hubungan yang baik tidak boleh menjadi dasar penilaian kontribusi. Dalam konteks kerja jarak jauh, evaluasi harus berbasis hasil kerja (performance-based management), target yang terukur, komunikasi rutin, serta pemberian umpan balik secara objektif. Pemimpin juga perlu melakukan coaching untuk mencari akar penyebab rendahnya kontribusi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Iko Afianando mengenai bagaimana memastikan karyawan yang bekerja secara Work From Anywhere (WFA) atau remote tidak merasa menjadi “warga kelas dua” dalam proses pengambilan keputusan. Dr. Andika menjelaskan bahwa rasa memiliki (sense of belonging) merupakan salah satu fondasi inclusive leadership. Oleh karena itu, pemimpin harus memastikan seluruh anggota tim memperoleh akses informasi yang sama, kesempatan menyampaikan pendapat yang setara, serta dilibatkan dalam forum diskusi maupun pengambilan keputusan tanpa membedakan lokasi kerja. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat inklusi, bukan menciptakan kesenjangan baru.

Sementara itu, Nur Fatimah mengangkat isu mengenai bagaimana inclusive leadership menjembatani perbedaan gaya komunikasi antar generasi, mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Milenial hingga Generasi Z. Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. Andika menekankan bahwa pemimpin perlu memahami bahwa setiap generasi dibentuk oleh pengalaman sosial yang berbeda sehingga memiliki preferensi komunikasi yang berbeda pula. Pemimpin yang inklusif tidak memaksakan satu pola komunikasi, melainkan mengembangkan fleksibilitas (communication adaptability), membangun empati, serta menciptakan ruang dialog yang memungkinkan setiap generasi saling memahami dan belajar satu sama lain.

Kepemimpinan Inklusif Menjadi Kompetensi Masa Depan

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa kepemimpinan modern tidak lagi hanya diukur dari kemampuan mengarahkan bawahan, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang menghargai keberagaman dan memberdayakan setiap individu. Organisasi yang mampu membangun budaya inklusif akan lebih siap menghadapi perubahan, meningkatkan kolaborasi lintas fungsi, serta menghasilkan inovasi yang lebih berkelanjutan.

Sumber : www.sbm.itb.ac.id

Sebagai penutup, Dr. Andika menegaskan bahwa keberagaman bukanlah tantangan yang harus dihindari, melainkan aset strategis yang perlu dikelola melalui kepemimpinan yang adaptif, adil, dan inklusif. Dengan demikian, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga memberikan kesempatan bagi seluruh anggota tim untuk berkembang dan berkontribusi secara optimal.