Sinergi 4 Perguruan Tinggi Perkuat Daya Saing Pangan dan Agrowisata di Desa Wisata Hanjeli

Dari kiri ke kanan: Lianna Wijaya (BINUS University Jakarta); Yuli S. (Universitas Riau Kepulauan, Batam); Tiurida Lily Anita, Thoyyibah T., Meta A. Dewi, Made Irma Lestari (BINUS University Jakarta); Zulvia Khalid (Universitas Budi Luhur, Jakarta); dan Maurits Sahata Sipayung (Universitas Mulia, Samarinda)
Dalam upaya mendorong penguatan ekonomi berbasis agrowisata dan pemberdayaan komunitas lokal, empat perguruan tinggi terkemuka Indonesia menggelar program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Kolaborasi di Desa Wisata Hanjeli, Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 4–5 September 2026. Kegiatan lintas akademisi ini melibatkan para dosen dari Universitas Bina Nusantara (BINUS University), Universitas Budi Luhur Jakarta, Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam, dan Universitas Mulia Samarinda. Mengusung tema “Pemberdayaan Kelompok Tani Hanjeli dalam Meningkatkan Daya Saing Produk melalui Digitalisasi, Tata Kelola Usaha, dan Kesehatan Kerja”, program ini secara khusus merangkul para penggerak pertanian lokal, yaitu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hanjeli dan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Langkah kolaboratif ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan nyata yang dihadapi para petani, mulai dari manajemen usaha, efisiensi budidaya di tengah perubahan iklim, hingga perlindungan kesehatan kerja di lapangan.
Tanaman Hanjeli (Coix lacryma-jobi) sendiri telah lama menjadi komoditas pangan alternatif unggulan sekaligus ikon agrowisata di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi. Namun, potensi lokal yang melimpah ini membutuhkan sentuhan inovasi agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi di pasar modern. Oleh karena itu, tim PkM Kolaborasi hadir tidak sekadar memberikan pelatihan searah, tetapi mengusung semangat pendampingan berbasis masalah (problem-based solution). Berangkat dari prinsip bahwa solusi yang baik harus berakar pada kebutuhan nyata petani, para akademisi berfokus pada upaya mendengarkan aspirasi Gapoktan dan KWT, memahami kendala operasional harian, serta merumuskan strategi bersama demi menciptakan keberlanjutan usaha tani yang mandiri dan berdaya saing.
Sesi edukasi utama berlangsung secara intensif dan interaktif selama 60 menit di rumah warga di Desa Wisata Hanjeli dengan memaparkan tiga pilar strategis pemberdayaan. Pilar pertama berfokus pada pengelolaan budidaya adaptif dan tata kelola organisasi, di mana para dosen memaparkan teknik seleksi benih unggul, peneraman tumpang sari tanaman kacang-kacangan untuk pemfiksasi nitrogen tanah, serta penggunaan mulsa dan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) untuk efisiensi air saat musim kemarau. Di samping teknis pertanian, kelembagaan Gapoktan dan KWT diperkuat melalui pembagian peran organisasi yang jelas antara pengurus dan unit kerja, penjadwalan rapat rutin, serta pembukuan catatan masalah dan keputusan agar tindak lanjut usaha kelompok berjalan terstruktur.

Pilar kedua menekankan pada digitalisasi data dan pemanfaatan teknologi terkini untuk menunjang keputusan bisnis yang cepat dan tepat. Tim dosen memperagakan penggunaan aplikasi sederhana seperti WhatsApp dan Google Spreadsheet untuk membantu pencatatan inventaris sarana produksi (saprodi), pemantauan harga pasar, analisis cuaca, hingga pengelolaan database anggota. Tak kalah menarik, sesi ini juga memperkenalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam merancang dan mengelola website profil Desa Wisata Hanjeli. Integrasi AI ini memungkinkan pembuatan katalog produk digital, promosi paket edukasi agrowisata, dan pengelolaan portal informasi desa dilakukan secara efisien sehingga mampu memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional maupun internasional.
Pilar ketiga menyoroti faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) petani sebagai modal utama produktivitas. Penyuluhan kesehatan mencakup edukasi ergonomi kerja, seperti mempraktikkan postur tubuh yang benar saat menanam dan memanen, serta teknik mengangkat beban berat yang aman dengan membengkokkan lutut untuk mencegah cedera otot dan sendi. Sesi ini dikemas secara praktis melalui demo peregangan otot sederhana yang dapat dilakukan petani sebelum dan sesudah beraktivitas di sawah. Selain itu, para petani juga dibekali pengetahuan mengenai keamanan penggunaan pestisida, pentingnya Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan sarung tangan, tata cara penyimpanan bahan kimia yang aman, serta langkah pertolongan pertama jika terjadi gejala keracunan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung (field visit) ke lahan pertanian Hanjeli, di mana para akademisi bersama pengurus Gapoktan dan anggota KWT menyusuri area persawahan terasering. Kunjungan lapangan ini menjadi ruang diskusi terbuka untuk meninjau secara langsung kondisi riil tanaman, pola pemeliharaan tanah, alur irigasi, serta penanganan gulma di area tanam. Suasana keakraban tercipta ketika para petani memamerkan bulir-bulir hanjeli yang siap panen sembari mempraktikkan langsung gerakan peregangan dan penyesuaian postur kerja ergonomis. Kehadiran ragam perspektif akademisi dari Jakarta, Batam, hingga Samarinda ini memberikan dorongan semangat baru bagi warga desa dalam mengemas produk turunan Hanjeli seperti olahan kuliner, tepung, hingga kerajinan manik-manik agar semakin diminati pengunjung desa wisata.
Program kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Integrasi antara ketahanan pangan lokal, kelembagaan yang kuat, efisiensi digital, dan jaminan kesehatan kerja diharapkan dapat menjadikan Desa Wisata Hanjeli sebagai kawasan agrowisata yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan. Dengan runtuhnya sekat antara teori akademis dan realitas di lapangan, tim PkM Kolaborasi berkomitmen untuk terus memantau dan mendampingi perkembangan program ini secara berkala. Hal ini dilakukan guna memastikan setiap materi dan teknologi yang diserap dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata serta meningkatkan taraf hidup para petani di Desa Wisata Hanjeli.

Comments :